Search:
Saturday, Jan-18 2020 23:46 WIB
  • AGRI 1,425.950 0.000 (0.000%)
  • BASIC-IND 960.420 0.000 (0.000%)
  • BISNIS-27 564.300 0.000 (0.000%)
  • COMPOSITE 6,286.050 0.000 (0.000%)
  • CONSUMER 2,104.310 0.000 (0.000%)
  • DBX 1,089.840 0.000 (0.000%)
  • FINANCE 1,363.870 0.000 (0.000%)
  • I-GRADE 178.800 0.000 (0.000%)
  • IDX30 559.650 0.000 (0.000%)
  • IDX80 143.830 0.000 (0.000%)
  • IDXBUMN20 388.520 0.000 (0.000%)
  • IDXG30 145.290 0.000 (0.000%)
  • IDXHIDIV20 504.610 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-COM 254.520 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-LIQ 317.230 0.000 (0.000%)
  • IDXV30 141.520 0.000 (0.000%)
  • INFOBANK15 1,043.150 0.000 (0.000%)
  • INFRASTRUC 1,100.550 0.000 (0.000%)
  • Investor33 473.860 0.000 (0.000%)
  • ISSI 185.090 0.000 (0.000%)
  • JII 694.470 0.000 (0.000%)
  • JII70 231.290 0.000 (0.000%)
  • KOMPAS100 1,284.800 0.000 (0.000%)
  • LQ45 1,025.810 0.000 (0.000%)
  • MANUFACTUR 1,473.920 0.000 (0.000%)
  • MBX 1,760.970 0.000 (0.000%)
  • MINING 1,547.190 0.000 (0.000%)
  • MISC-IND 1,241.480 0.000 (0.000%)
  • MNC36 355.020 0.000 (0.000%)
  • PEFINDO25 324.170 0.000 (0.000%)
  • PROPERTY 491.690 0.000 (0.000%)
  • SMinfra18 321.200 0.000 (0.000%)
  • SRI-KEHATI 404.490 0.000 (0.000%)
  • TOTAL_MARKET 6,286.050 0.000 (0.000%)
  • TRADE 758.690 0.000 (0.000%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
Mengenal TSL Saham (1)
Published: 7 Jan 2020 07:39 WIB


IMQ, Jakarta —  Di Indonesia, trailing stop loss (TSL) sangat berguna karena pergerakan saham-saham sangat fluktuatif. Contohnya Indika Energy Tbk (INDY) pada 2017 lalu.

INDY melesat dari 750 pada awal tahun, hingga sempat menyentuh 4.520 pada Januari 2018, sehingga mencetak keuntungan ratusan persen, bahkan bagi mereka yang baru masuk katakanlah pada harga 1.000 atau 2.000. Namun, memasuki Februari 2018, INDY mulai turun tepatnya pada Maret sudah berada di level 3.300, dan terus turun sampai hari ini.

“Nah, jadi kalau ada investor yang memasang TSL 10% di INDY ini, maka dia akan sudah otomatis menjual sahamnya ketika INDY turun ke 4.060 (turun 10% dari 4.520), tidak peduli posisinya untung ataupun rugi (kalau dia belinya di harga 4.500, maka dia rugi, tapi kalau dia belinya di 2.000, atau 1.000, maka dia untung),” ucap Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat melalui risetnya.

Ia melanjutkan, bayangkan jika ada investor yang beli INDY di harga 4.500, dan dia tidak menggunakan TSL sehingga masih hold sahamnya sampai sekarang. Saat ini, harga saham INDY di level 1.000an.

Demikian pula bagi investor yang pada 2017 lalu sudah beli INDY di harga 1.000 atau lebih rendah lagi, tapi juga tidak memanfaatkan TSL, sehingga mereka tidak sempat profit taking ketika satu setengah tahun lalu INDY berada di posisi tertingginya, dan justru masih hold sampai sekarang.

Tidak hanya INDY, dalam 3 – 4 tahun terakhir ini ada banyak saham-saham lain yang juga sempat terbang, namun turun dan balik lagi ke posisi sebelum naik, atau bahkan lebih rendah lagi. Sebut saja, Harum Energy (HRUM) dari 1.000 ke 3.500 lalu ke 1.300. Indomobil Sukses Makmur (IMAS) dari 850 ke 4.500, lalu ke 1.000. Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) dari 3.000 ke 20.000 dan kemudian 7.000.

“Sehingga dengan penggunaan TSL ini, maka diharapkan tidak akan ada lagi kasus saya beli di harga Rp500 dan masih hold sampai sekarang. Batas TSL ini juga tidak harus sahamnya turun 10%, melainkan bisa 5%, 15%, tergantung input yang dibuat si investor itu sendiri,” ucapnya.

Kendati demikian, penggunaan TSL ini bukannya tanpa kelemahan. Dalam banyak kasus, TSL bukannya membantu investor untuk stop loss, tapi justru loss taking. Ketika sebuah saham turun signifikan sebanyak sekian persen, maka seringkali hal itu merupakan awal dari penurunan yang lebih lanjut, sehingga TSL membantu investor untuk membatasi kerugian yang terjadi.

Namun demikian, sering juga terjadi sebuah saham hanya turun sebentar, sebelum kemudian naik lagi. Contohnya, seiring dengan penurunan IHSG dalam beberapa bulan terakhir, maka ada banyak sekali saham-saham di BEI yang turun lebih dari 10%.

Salah satunya adalah Bank BNI (BBNI), yang pada September 2019 kemarin sahamnya berada di 7.500, dan harga tersebut sudah cukup murah terutama untuk ukuran saham bluechip (PER 8,8 kali, PBV 1,2 kali).

Di Oktober, IHSG kembali turun di bawah level 6.000 dan BBNI ikut terseret turun sampai 6.675, alias turun 11%. Kalau seorang investor beli BBNI di 7.500, lalu ia memasang TSL 10%, maka ia akan otomatis menjual BBNI pada harga 6.750. Kemudian, saham BBNI naik lagi, dan sekarang sudah di 7.500-an lagi.
Author: Susan Silaban
-
POPULAR NEWS