Search:
Wednesday, Dec-11 2019 08:27 WIB
  • AGRI 1,430.430 0.000 (0.000%)
  • BASIC-IND 976.980 0.000 (0.000%)
  • BISNIS-27 544.990 0.000 (0.000%)
  • COMPOSITE 6,183.500 0.000 (0.000%)
  • CONSUMER 2,047.380 0.000 (0.000%)
  • DBX 1,106.020 0.000 (0.000%)
  • FINANCE 1,302.600 0.000 (0.000%)
  • I-GRADE 174.570 0.000 (0.000%)
  • IDX30 541.380 0.000 (0.000%)
  • IDX80 140.400 0.000 (0.000%)
  • IDXBUMN20 383.990 0.000 (0.000%)
  • IDXG30 142.200 0.000 (0.000%)
  • IDXHIDIV20 489.480 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-COM 257.590 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-LIQ 312.700 0.000 (0.000%)
  • IDXV30 140.040 0.000 (0.000%)
  • INFOBANK15 988.340 0.000 (0.000%)
  • INFRASTRUC 1,121.130 0.000 (0.000%)
  • Investor33 458.040 0.000 (0.000%)
  • ISSI 186.050 0.000 (0.000%)
  • JII 690.620 0.000 (0.000%)
  • JII70 231.910 0.000 (0.000%)
  • KOMPAS100 1,250.760 0.000 (0.000%)
  • LQ45 992.110 0.000 (0.000%)
  • MANUFACTUR 1,450.970 0.000 (0.000%)
  • MBX 1,724.850 0.000 (0.000%)
  • MINING 1,490.580 0.000 (0.000%)
  • MISC-IND 1,184.950 0.000 (0.000%)
  • MNC36 343.290 0.000 (0.000%)
  • PEFINDO25 331.440 0.000 (0.000%)
  • PROPERTY 517.760 0.000 (0.000%)
  • SMinfra18 321.040 0.000 (0.000%)
  • SRI-KEHATI 389.560 0.000 (0.000%)
  • TOTAL_MARKET 6,183.500 0.000 (0.000%)
  • TRADE 766.680 0.000 (0.000%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
Strategi Blue Bird Tingkatkan Pendapatan
Published: 14 Nov 2019 11:14 WIB


IMQ, Jakarta —  PT Blue Bird Tbk. terus melanjutkan ekspansinya hingga akhir tahun dengan menyasar empat bandar udara (bandara) baru di Pulau Jawa untuk bisnis jasa transportasi.

Adapun, bandara yang menjadi target perseroan di antaranya adalah Bandara Internasional New Yogyakarta, dan Bandara Kertajati.

Perusahaan dengan kode emiten BIRD telah membuat kejutan dengan meluncurkan taksi listrik pertama di Indonesia.

Namun, kinerja Blue Bird terancam setelah jasa transportasi daring menjamur di Indonesia sekitar 2014 silam. Penawaran tarif yang lebih murah membuat masyarakat beralih dari menggunakan taksi menjadi transportasi daring yang terdiri dari, ojek sampai taksi.

Alhasil, pendapatan perseroan dari taksi terus mengalami penurunan. Pada 2016, penurunan pendapatan taksi perseroan sebesar 15% menjadi Rp4,02 triliun dibandingkan dengan Rp4,76 triliun pada 2015.

Penurunan masih berlanjut pada 2017 sebesar 13,68% menjadi Rp3,47%. Tren penurunan kian tipis menjadi 1,72% atau senilai Rp3,41 triliun pada 2018.

Perlambatan tren penurunan pendapatan taksi itu bisa jadi ditopang oleh kerja sama perseroan dengan Go-Jek. Salah satu perusahaan rintisan jasa transportasi daring.

Selain itu, BIRD juga mengembangkan sistem pembayaran taksinya dengan metode non tunai. Perseroan bekerja sama dengan Tcash, penyedia uang elektronik milik PT Telkomsel yang kini bernama Linkaja.

Sementara itu, industri taksi yang tengah mendapatkan tantangan berat membuat Blue Bird mengembangkan bisnis di luar taksi.

Secara tren kinerja, rata-rata pertumbuhan pendapatan non taksi perseroan memang belum tembus 10%. Bahkan, pada 2017, pendapatan non taksinya sempat susut 5,01%.

Kontribusi pendapatan non taksi dari total pendapatan pun masih sekitar 19%. Namun, Blue Bird cukup gencar ekspansi untuk pendapatan non taksi tersebut.

Sepanjang tahun ini saja, perseroan sudah melakukan tiga aksi korporasi untuk mengembangkan bisnis nontaksinya tersebut.

Pertama, perseroan mendirikan PT Trans Antar Nusabird. Perusahaan itu memiliki lini usaha pergudangan, pos, dan kurir. Kedua, Blue Bird membuat perusahaan patungan bersama Mitsubishi UFJ Lease & Finance dan PT Takari Kokoh Sejahtera yakni, PT Balai Lelang Caready. Ketiga, perseroan mengakuisisi perusahaan travel Cititrans senilai Rp115 miliar melalui anak usaha barunya PT Trans Antar Nusabird.

Fokus mengembangkan bisnis non taksi bukan berarti perseroan melupakan inovasi bisnis taksinya.

Blue Bird meluncurkan taksi listrik yang mulai beroperasi pada Mei 2019. Untuk Inovasi taksi listrik itu, perseroan menggelontorkan dana senilai Rp40 miliar.

Dana itu digunakan untuk membeli 29 mobil listrik yang terdiri dari, 25 unit BYD e6 A/T, dan 4 unit Tesla Model X 75D A/T. Nantinya, 24 mobil listrik BYD akan digunakan untuk taksi reguler, sedangkan 4 mobil listrik Tesla untuk taksi premium.

Dana itu juga digunakan untuk membangun 12 unit stasiun pengisian listrik (SPL) di kantornya. Terkait tarif, perseroan memastikan tarif taksi listrik tidak akan berbeda dengan taksi berbahan bakar fosil.

Sedangkan analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony, mengatakan emiten transportasi masih memiliki prospek yang menarik. Salah satu faktornya yakni adanya aturan mengenai tarif angkutan online.

"Sekarang Gojek dan Grab sudah tidak terlalu jauh perbedaan harganya," katanya dalam risetnya.

Kemudian adanya peraturan pemerintah yang membatasi kendaraan pribadi juga akan menjadi peluang untuk pertumbuhan bisnis.

"Ini akan meningkatkan kinerja, perusahaan-perusahaan transportasi seperti BIRD jadi lebih leluasa," paparnya.

Chris mengungkapkan, untuk tantangan emiten transportasi seperti mengenai mobil listrik yang akan menjadi perhatian baik dari sisi regulasi perpajakan, serta sistem untuk mengurangi kemacetan di daerah-daerah yang tergolong padat melalui sistem-ganjil genap.

"Ditambah lagi perbaikan dari fasilitas transportasi umum juga menjadi pesaing tidak langsung bagi perusahaan transportasi," ujar Chris.

Chris merekomendasikan investor untuk buy saham BIRD dengan target harga sampai akhir tahun Rp 2.700 per saham.
Author: Indra BP
-
POPULAR NEWS