Search:
Tuesday, Jan-21 2020 09:01 WIB
  • AGRI 1,418.280 1.810 (0.128%)
  • BASIC-IND 956.070 -2.690 (-0.281%)
  • BISNIS-27 563.990 1.630 (0.290%)
  • COMPOSITE 6,253.460 8.420 (0.135%)
  • CONSUMER 2,081.230 -1.380 (-0.066%)
  • DBX 1,089.130 -0.990 (-0.091%)
  • FINANCE 1,373.920 7.490 (0.548%)
  • I-GRADE 179.640 0.710 (0.397%)
  • IDX30 559.020 1.580 (0.283%)
  • IDX80 143.210 0.220 (0.154%)
  • IDXBUMN20 386.280 0.830 (0.215%)
  • IDXG30 145.350 0.260 (0.179%)
  • IDXHIDIV20 503.270 1.220 (0.243%)
  • IDXSMC-COM 250.810 -0.310 (-0.123%)
  • IDXSMC-LIQ 310.680 -1.060 (-0.340%)
  • IDXV30 138.120 -0.490 (-0.354%)
  • INFOBANK15 1,053.380 6.820 (0.652%)
  • INFRASTRUC 1,088.620 -0.100 (-0.009%)
  • Investor33 473.480 1.490 (0.316%)
  • ISSI 182.990 -0.200 (-0.109%)
  • JII 686.870 -1.030 (-0.150%)
  • JII70 228.760 -0.320 (-0.140%)
  • KOMPAS100 1,279.910 2.290 (0.179%)
  • LQ45 1,024.370 2.360 (0.231%)
  • MANUFACTUR 1,460.850 -1.200 (-0.082%)
  • MBX 1,750.760 2.900 (0.166%)
  • MINING 1,513.220 -2.750 (-0.181%)
  • MISC-IND 1,227.950 3.340 (0.273%)
  • MNC36 354.970 1.050 (0.297%)
  • PEFINDO25 316.700 -1.050 (-0.330%)
  • PROPERTY 479.690 -1.150 (-0.239%)
  • SMinfra18 317.800 -0.580 (-0.182%)
  • SRI-KEHATI 405.020 1.720 (0.426%)
  • TOTAL_MARKET 6,254.160 9.120 (0.146%)
  • TRADE 749.980 -0.850 (-0.113%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
  • ADRO 1,425 -10 (-0.70%)
  • ANTM 795 0 (0.00%)
  • APLN 170 1 (0.59%)
  • ASSA 620 0 (0.00%)
  • BACA 310 0 (0.00%)
  • BBCA 34,450 275 (0.80%)
  • BBNI 7,575 25 (0.33%)
  • BBRI 4,680 20 (0.43%)
  • BELL 530 0 (0.00%)
  • BEST 194 0 (0.00%)
  • BJBR 1,010 0 (0.00%)
  • BJTM 655 5 (0.77%)
  • BMRI 7,700 75 (0.98%)
  • BOGA 1,360 0 (0.00%)
  • BRPT 1,310 0 (0.00%)
  • BTPS 4,450 0 (0.00%)
  • BULL 176 -1 (-0.56%)
  • BUMI 65 0 (0.00%)
  • BWPT 143 -1 (-0.69%)
  • CPIN 7,200 -75 (-1.03%)
  • ERAA 1,710 -15 (-0.87%)
  • EXCL 3,330 -30 (-0.89%)
  • HMSP 2,190 0 (0.00%)
  • INDF 8,200 -50 (-0.61%)
  • INDY 1,135 0 (0.00%) © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
  • JPFA 1,645 -20 (-1.20%)
  • JSKY 195 1 (0.52%)
  • KOTA 630 -15 (-2.33%)
  • KPIG 131 0 (0.00%)
  • LPKR 234 0 (0.00%)
  • LUCK 590 30 (5.36%)
  • MEDC 795 -5 (-0.62%)
  • MNCN 1,750 5 (0.29%)
  • PGAS 1,950 -15 (-0.76%)
  • PPRO 56 0 (0.00%)
  • PSAB 274 -4 (-1.44%)
  • PTBA 2,550 -40 (-1.54%)
  • PTPP 1,520 -25 (-1.62%)
  • REAL-W 31 1 (3.33%)
  • SCMA 1,570 -30 (-1.88%)
  • SHIP 760 0 (0.00%)
  • SSMS 805 15 (1.90%)
  • TINS 840 5 (0.60%)
  • TLKM 3,820 10 (0.26%)
  • UNVR 8,325 0 (0.00%)
  • WIKA 2,010 -10 (-0.50%)
  • WOOD 550 0 (0.00%)
  • ZBRA 100 3 (3.09%)
Kemenperin Fasilitasi Penyerapan Garam Lokal Sebanyak 1,1 Juta Ton
Published: 6 Aug 2019 16:14 WIB


IMQ, Jakarta —  Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong sinergi antara industri dengan petani garam demi menjamin ketersediaan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi sektor industri.

"Garam merupakan komoditas strategis yang penggunaannya sangat luas, mulai dari konsumsi rumah tangga, industri pangan, industri farmasi dan kosmetik, pengeboran minyak hingga industri klor alkali," kata Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, pada acara Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) penyerapan garam lokal tahun di Jakarta, Selasa (6/8).

Pada MoU tahun ini, garam lokal akan diserap oleh industri sebanyak 1,1 juta ton. Target tersebut meningkat dari capaian serapan tahun lalu sebesar 1.053.000 ton.

Kesepakatan ini sebagai wujud nyata dari kerja sama antara 11 industri pengolah garam dengan 164 petani garam di dalam negeri. Para petani garam itu berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

"Kami mengapresiasi kepada para industri pengolah garam dan para petani garam atas sumbangsih yang telah diberikan kepada Indonesia, khususnya pada sektor komoditas pergaraman nasional dalam membangun ketahanan industri dan pangan nasional," papar Airlangga.

Berdasarkan neraca garam nasional, lanjut Airlangga, kebutuhan garam nasional tahun ini diperkirakan sekitar 4,2 juta ton. Jumlah tersebut terdiri atas kebutuhan industri sebesar 3,5 juta ton, konsumsi rumah tangga 320.000 ton, komersial 350.000 ton, serta peternakan dan perkebunan 30.000 ton.

"Garam produksi dalam negeri hingga saat ini baru dapat memenuhi untuk kebutuhan konsumsi, serta beberapa industri seperti pengasinan ikan, penyamakan kulit, dan water treatment," ujarnya.

Oleh karena itu, seiring tingginya kebutuhan garam di pasar domestik, Kemenperin terus memacu peningkatan kualitas garam lokal, sehingga dapat teserap oleh industri skala besar.

Adapun sektor industri yang paling banyak menggunakan garam sebagai bahan bakunya, antara lain industri klor alkali (CAP), industri farmasi, industri pengeboran minyak, dan industri aneka pangan.

Airlangga menambahkan, peningkatan kualitas garam nasional harus dimulai dari proses hulu produksi garam oleh petani, misalnya dengan menjaga konsistensi masa produksi garam sampai memperoleh hasil yang optimal, dengan kandungan NaCl untuk garam konsumsi minimal 94% dan garam industri 97%. Kadar NaCl yang tinggi juga harus disertai dengan impuritas dan cemaran logam yang rendah.

"Di samping itu, pemerintah akan mendorong secara bertahap dalam upaya peningkatan kualitas garam, termasuk untuk tambahan ketersediaan lahan," tutur Airlangga.
Author: Indra BP
-
POPULAR NEWS