Search:
Saturday, Jan-18 2020 16:10 WIB
  • AGRI 1,425.950 0.000 (0.000%)
  • BASIC-IND 960.420 0.000 (0.000%)
  • BISNIS-27 564.300 0.000 (0.000%)
  • COMPOSITE 6,286.050 0.000 (0.000%)
  • CONSUMER 2,104.310 0.000 (0.000%)
  • DBX 1,089.840 0.000 (0.000%)
  • FINANCE 1,363.870 0.000 (0.000%)
  • I-GRADE 178.800 0.000 (0.000%)
  • IDX30 559.650 0.000 (0.000%)
  • IDX80 143.830 0.000 (0.000%)
  • IDXBUMN20 388.520 0.000 (0.000%)
  • IDXG30 145.290 0.000 (0.000%)
  • IDXHIDIV20 504.610 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-COM 254.520 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-LIQ 317.230 0.000 (0.000%)
  • IDXV30 141.520 0.000 (0.000%)
  • INFOBANK15 1,043.150 0.000 (0.000%)
  • INFRASTRUC 1,100.550 0.000 (0.000%)
  • Investor33 473.860 0.000 (0.000%)
  • ISSI 185.090 0.000 (0.000%)
  • JII 694.470 0.000 (0.000%)
  • JII70 231.290 0.000 (0.000%)
  • KOMPAS100 1,284.800 0.000 (0.000%)
  • LQ45 1,025.810 0.000 (0.000%)
  • MANUFACTUR 1,473.920 0.000 (0.000%)
  • MBX 1,760.970 0.000 (0.000%)
  • MINING 1,547.190 0.000 (0.000%)
  • MISC-IND 1,241.480 0.000 (0.000%)
  • MNC36 355.020 0.000 (0.000%)
  • PEFINDO25 324.170 0.000 (0.000%)
  • PROPERTY 491.690 0.000 (0.000%)
  • SMinfra18 321.200 0.000 (0.000%)
  • SRI-KEHATI 404.490 0.000 (0.000%)
  • TOTAL_MARKET 6,286.050 0.000 (0.000%)
  • TRADE 758.690 0.000 (0.000%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
Moody's dan Fitch Turunkan Peringkat APLN
Published: 22 Jul 2019 15:19 WIB


IMQ, Jakarta —  Lembaga pemeringkat global, Moody's Investors Service (Moody’s) menurunkan peringkat PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) beserta US$300 juta Senior Notes yang akan jatuh tempo pada tahun 2024 menjadi B2 dari B1 dengan prospek semua peringkat diubah menjadi dalam pengawasan dari negatif, dan oleh FitchRatings (Fitch) dari B- ke CCC-.

Semua peringkat yang ditempatkan pada 15 Mei 2019 dihapus dari Rating Watch Negative (RWN).

Corporate Secretary APLN, F Justini Omas mengatakan penurunan peringkat ini disebabkan apa yang diasumsikan para oleh pemeringkat mengenai meningkatnya risiko pembiayaan kembali dan likuiditas APLN yang disebabkan keterlambatan dalam menerbitkan fasilitas pinjaman tahap dua, berdasarkan perjanjian fasilitas hingga Rp2,6 triliun tertanggal 24 Mei 2019 yang akan digunakan perseroan untuk membayarkan kembali pada Juni 2019.

"Semua pinjaman yang belum dibayar senilai Rp1,17 triliun pada Juni 2019 berdasarkan perjanjian fasilitas tertanggal 5 Juni 2018 (Perjanjian Fasilitas I)," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (22/7).

Menurut F. Justini Omas, keterlambatan pencairan fasilitas pinjaman tahap dua dari perjanjian fasilitas II, terjadi diluar kendali APLN.

"Kami diinformasikan oleh pemberi pinjaman perjanjian fasilitas II bahwa fasilitas pinjaman tahap dua akan tersedia untuk penarikan untuk melunasi seluruh pinjaman perjanjian fasilitas I pada Juni 2019, namun sayangnya para pemberi pinjaman sindikasi tidak dapat mencairkan jumlah fasilitas pinjaman tahap dua tersebut tepat waktu," terangnya.

Untuk mengatasi keterlambatan pembayaran kembali pinjaman perjanjian fasilitas I, perseroan telah meminta, dan telah berhasil mendapatkan persetujuan tertulis dari semua pemberi pinjaman dalam perjanjian fasilitas I untuk memperpanjang tanggal pembayaran kembali pinjaman perjanjian fasilitas I dimaksud hingga 30 September 2019.

Selain Senior Notes 2024, perjanjian fasilitas I dan II, APLN juga memiliki pinjaman yang belum dibayar berupa obligasi senilai Rp451 miliar yang akan jatuh tempo pada Desember 2019, dan obligasi sebesar Rp99 miliar yang akan jatuh tempo pada Maret 2020.

Satu-satunya kewajiban yang dijamin oleh Central Park Mall (yang memiliki nilai valuasi sebesar Rp6,3 triliun pada akhir 2018) adalah obligasi Rupiah dengan total nilai Rp550 miliar.

"Kami percaya Central Park Mall masih memiliki ruang yang cukup sebagai jaminan untuk pembiayaan jangka pendek jika diperlukan," tuturnya.

Untuk memenuhi tanggal jatuh tempo baru dari pinjaman perjanjian fasilitas I, perseroan saat ini sedang bekerja bersama-sama dengan pemegang saham untuk mendapatkan uang muka dari pemegang saham.

"APLN juga sedang bekerja bersama-sama dengan para pemberi pinjaman sindikasi perjanjian fasilitas II untuk penggalangan dana lainnya," terangnya.

Justini menambahkan APLN juga sedang mengerjakan penjualan salah satu dari properti komersial yang diharapkan direalisasikan pada paruh kedua 2019 dan menggunakan sebagian dari hasil penjualan tersebut untuk mengurangi total hutang perseroan.

"Dalam hal lainnya, perseroan masih bekerjasama dengan pemerintah untuk menemukan solusi dalam pengembangan Pluit City dan berharap dapat melanjutkan pengembangan yang telah terhenti sejak Mei 2016 tersebut dalam waktu dekat," tegasnya.
Author: Irwen Azhari
-
POPULAR NEWS