Search:
Saturday, Jan-18 2020 15:19 WIB
  • AGRI 1,425.950 0.000 (0.000%)
  • BASIC-IND 960.420 0.000 (0.000%)
  • BISNIS-27 564.300 0.000 (0.000%)
  • COMPOSITE 6,286.050 0.000 (0.000%)
  • CONSUMER 2,104.310 0.000 (0.000%)
  • DBX 1,089.840 0.000 (0.000%)
  • FINANCE 1,363.870 0.000 (0.000%)
  • I-GRADE 178.800 0.000 (0.000%)
  • IDX30 559.650 0.000 (0.000%)
  • IDX80 143.830 0.000 (0.000%)
  • IDXBUMN20 388.520 0.000 (0.000%)
  • IDXG30 145.290 0.000 (0.000%)
  • IDXHIDIV20 504.610 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-COM 254.520 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-LIQ 317.230 0.000 (0.000%)
  • IDXV30 141.520 0.000 (0.000%)
  • INFOBANK15 1,043.150 0.000 (0.000%)
  • INFRASTRUC 1,100.550 0.000 (0.000%)
  • Investor33 473.860 0.000 (0.000%)
  • ISSI 185.090 0.000 (0.000%)
  • JII 694.470 0.000 (0.000%)
  • JII70 231.290 0.000 (0.000%)
  • KOMPAS100 1,284.800 0.000 (0.000%)
  • LQ45 1,025.810 0.000 (0.000%)
  • MANUFACTUR 1,473.920 0.000 (0.000%)
  • MBX 1,760.970 0.000 (0.000%)
  • MINING 1,547.190 0.000 (0.000%)
  • MISC-IND 1,241.480 0.000 (0.000%)
  • MNC36 355.020 0.000 (0.000%)
  • PEFINDO25 324.170 0.000 (0.000%)
  • PROPERTY 491.690 0.000 (0.000%)
  • SMinfra18 321.200 0.000 (0.000%)
  • SRI-KEHATI 404.490 0.000 (0.000%)
  • TOTAL_MARKET 6,286.050 0.000 (0.000%)
  • TRADE 758.690 0.000 (0.000%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
BTN Sesuaikan Rencana Bisnis
Published: 19 Jul 2019 13:59 WIB


IMQ, Jakarta —  PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melakukan penyesuian rencana bisnis di 2019
seiring pertumbuhan ekonomi dunia dan domestik yang diperkirakan melambat akibat berkepanjangannya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta turunnya harga komoditas.

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi di 2019 hanya 2,6 persen lebih rendah dibandingkan prediksi awal 2,9 persen.

Perlambatan ini direspon sejumlah negara dengan kebijakan moneter yang berdampak pada industri perbankan.

Direktur Utama Bank BTN, Maryono menjelaskan perseroan telah melakukan kajian ekonomi makro dengan mengubah asumsi makro, dimana pertumbuhan ekonomi diperkirakan lebih rendah dari asumsi awal, sehingga BI 7days reverse repo rate diprediksi terus turun seiring inflasi yang relatif stabil. Kajian internal ini mendasari perubahan bisnis BTN.

"Penyesuaian Rencana Bisnis Bank (RBB) perlu dilakukan karena mempertimbangkan kondisi makro ekonomi yang ada dan melihat perkembangan industri perbankan dalam negeri yang cenderung mengalami pengetatan likuiditas," katanya di Jakarta, Jumat (19/7).

Menurut Maryono, ada sejumlah penyesuaian RBB dengan mempertimbangkan kinerja bisnis perseroan meliputi pertumbuhan kredit hingga akhir 2019 yang diprediksi berkisar 10-12 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) diprediksi tumbuh di level yang sama yaitu 10-12 persen, dan aset ditargetkan meningkat di kisaran 8-10 persen.

"Target pertumbuhan DPK dan kredit Bank BTN masih di atas RBB industri perbankan yang berada di angka 9-11 persen untuk kredit dan DPK yang hanya tumbuh 7 hingga 9 persen, kami optimistis kinerja perseroan tetap dalam jalurnya," paparnya.

Sejumlah strategi dijalankan Bank BTN untuk meraup pendanaan dan meningkatkan pertumbuhan kredit.

Untuk Pendanaan, perseroan melakukan kombinasi antara dana dari wholesale funding seperti penerbitan obligasi berkelanjutan tahap II dan mengejar dana murah dari produk tabungan dan deposito.

Maryono optimistis Bank BTN dapat mengejar pertumbuhan kredit pada paruh kedua tahun ini karena penyaluran kredit per Juni 2019 sudah sejalan dengan rencana perseroan.

"Pada segmen kredit yang digenjot adalah KPR non subsidi, kredit komersil dan kredit konstruksi," terangnya.

Stimulus pertumbuhan kredit pada semester kedua tahun ini, tambah Maryono antara lain, kebijakan Bank Indonesia seperti pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) dan Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan atau BI 7days reverse repo rate menjadi 5,75 persen.

"Permintaan kredit terutama properti masih tinggi, serta stabilnya suhu politik pasca Pemilu Presiden lalu," ungkapnya.

Lebih lanjut pada RBB, revisi dari target rasio perbankan diantaranya rasio kecukupan modal dan rasio kredit macet dengan tetap menyesuaikan dengan aturan regulator.

Untuk Capital Adequate Ratio (CAR) ditargetkan bisa bertahan pada kisaran 17-19 persen dan non performing loan atau NPL gross tetap dijaga di bawah 2,5 persen.

"Pengendalian NPL kami lakukan lewat pelelangan agunan yang tidak perform kepada developer maupun ke investor properti," tegasnya.
Author: Irwen Azhari
-
POPULAR NEWS