Search:
Tuesday, Oct-15 2019 08:58 WIB
  • AGRI 1,348.280 0.000 (0.000%)
  • BASIC-IND 863.720 0.000 (0.000%)
  • BISNIS-27 530.390 0.000 (0.000%)
  • COMPOSITE 6,126.880 0.000 (0.000%)
  • CONSUMER 2,164.150 0.000 (0.000%)
  • DBX 1,141.550 0.000 (0.000%)
  • FINANCE 1,233.980 0.000 (0.000%)
  • I-GRADE 170.150 0.000 (0.000%)
  • IDX30 519.740 0.000 (0.000%)
  • IDX80 135.930 0.000 (0.000%)
  • IDXBUMN20 375.390 0.000 (0.000%)
  • IDXG30 134.900 0.000 (0.000%)
  • IDXHIDIV20 472.350 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-COM 265.430 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-LIQ 315.110 0.000 (0.000%)
  • IDXV30 134.660 0.000 (0.000%)
  • INFOBANK15 941.190 0.000 (0.000%)
  • INFRASTRUC 1,209.990 0.000 (0.000%)
  • Investor33 445.350 0.000 (0.000%)
  • ISSI 188.020 0.000 (0.000%)
  • JII 676.880 0.000 (0.000%)
  • JII70 230.370 0.000 (0.000%)
  • KOMPAS100 1,225.570 0.000 (0.000%)
  • LQ45 954.470 0.000 (0.000%)
  • MANUFACTUR 1,429.360 0.000 (0.000%)
  • MBX 1,699.190 0.000 (0.000%)
  • MINING 1,611.860 0.000 (0.000%)
  • MISC-IND 1,148.020 0.000 (0.000%)
  • MNC36 333.000 0.000 (0.000%)
  • PEFINDO25 345.030 0.000 (0.000%)
  • PROPERTY 500.310 0.000 (0.000%)
  • SMinfra18 318.390 0.000 (0.000%)
  • SRI-KEHATI 381.220 0.000 (0.000%)
  • TOTAL_MARKET 6,126.880 0.000 (0.000%)
  • TRADE 798.980 0.000 (0.000%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
Strategi Ultrajaya Menangkan Industri Bisnis (1)
Published: 2 Apr 2019 09:38 WIB


IMQ, Jakarta —  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk berawal dari 1960-an ketika pendiri perusahaan, Achmad Prawirawidjaja, memproduksi susu kemasan siap minum di rumahnya di Jalan Tamblong, Jawa Barat, dengan bahan baku susu tersebut terutama dibeli dari peternakan sapi di Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Hingga pada 1975, perusahaan menerapkan teknologi pengolahan susu secara UHT (ultra high temperature), dan bekerja sama dengan Tetra Pak asal Swedia untuk menggunakan kemasan karton aseptik, yang memungkinkan hasil produksi susu menjadi jauh lebih tahan lama.

Pada tahun ini pula perusahaan mengadopsi nama Ultrajaya. Inovasi teknologi sukses besar, sehingga di tahun-tahun selanjutnya ULTJ mulai memproduksi jenis-jenis minuman lainnya (jus buah, teh, dst) yang juga menggunakan teknologi UHT dan kemasan aseptik.

Hingga pada hari ini, ULTJ memiliki satu pabrik produksi skala besar di Padalarang, Jawa Barat, yang memproduksi dan menjual susu UHT merk Ultramilk dengan berbagai varian rasa, susu kental manis Cap Sapi, teh siap minum dengan merek Teh Kotak, minuman Sari Kacang Ijo, Sari Asem Asli, keju Kraft, dan minuman sari buah.

ULTJ juga memproduksi susu untuk perusahaan lain termasuk untuk ekspor, dan memproduksi jus merek Buavita untuk PT Unilever Indonesia, Tbk. Secara keseluruhan ULTJ hanya fokus memproduksi dan menjual minuman, dengan lebih dari 95% diantaranya merupakan minuman UHT.

Keluarga Prawirawidjaja hampir tidak punya usaha lainnya selain ULTJ, sehingga memiliki tim manajemen yang berdedikasi penuh terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

Merek susu Ultramilk merupakan pemimpin pasar susu cair UHT di Indonesia dengan pangsa pasar 42% per September 2018. Merek Teh Kotak juga merupakan pemimpin pasar teh kemasan karton dengan pangsa pasar 71%.

“Kami menganggap bahwa susu Ultramilk adalah susu cair paling enak yang ada di Indonesia, bahkan lebih enak dibanding susu impor asal Eropa, dan Teh Kotak adalah minuman teh terenak kedua setelah Teh Botol Sosro. Jadi di sini kita punya dua jenis produk minuman yang, meski tidak sampai monopoli, namun merupakan favorit konsumen di Indonesia,” kata Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat melalui riset edisi Selasa (2/4).

Di Indonesia, konsumsi susu masih sangat rendah, hanya 12 liter per kapita (sebagai perbandingan, negara dengan konsumsi susu terbesar, yakni Finlandia, konsumsinya mencapai 361 liter per kapita). Namun demikian, volume produksi susu di dalam negeri masih lebih rendah lagi, dimana sekitar 75% kebutuhan susu dalam negeri dipasok oleh impor, terutama dari Australia.

“Ini menyebabkan ULTJ tidak pernah kesulitan memasarkan produknya, bahkan meski mereka hampir setiap tahun menaikkan harga jual, karena biar bagaimana harga produk mereka lebih murah dibanding susu impor (sedangkan kualitasnya juga tidak kalah, malah lebih baik), dan alhasil pendapatannya naik terus dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Rendahnya produksi susu dari peternak sapi di dalam negeri juga menyebabkan ULTJ terpaksa mengimpor sebagian bahan baku susu, sehingga kondisi ini berpengaruh terhadap kinerja perusahaan, terutama jika kurs Rupiah melemah.

Meski bisnisnya mudah, namun manajemen ULTJ terbilang pekerja keras dimana mereka terus berekspansi, dengan tetap fokus pada usaha dairy dan minuman secara umum. Jika melihat jenis-jenis usaha yang didirikan oleh manajemen, maka manajemen berusaha menjadikan ULTJ sebagai perusahaan dairy yang efisien dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Jadi, ULTJ memiliki prospek jangka panjang yang sangat menarik, apalagi jika di masa yang akan datang konsumsi susu di Indonesia juga turut meningkat seiring dengan meningkatnya GDP per kapita nasional,” ujarnya.

Karena cashflow-nya sangat besar, maka ULTJ hampir tidak pernah butuh utang bank untuk menjalankan usahanya termasuk untuk ekspansi, dan alhasil pendapatannya relatif bersih dari beban bunga utang sehingga margin labanya terbilang besar yakni mencapai 15 – 20% pendapatannya, dan perusahaan kebal terhadap risiko krisis/terjadinya perubahan pada ekonomi makro.

“Perusahaan juga sudah memiliki unit distribusinya sendiri, sehingga ini juga membantu menaikkan margin laba. Namun, pendapatan dan margin laba ini harusnya bisa lebih besar lagi andaikata ULTJ memiliki pasokan bahan bakunya sendiri,” tegas dia.
Author: Susan Silaban
-
POPULAR NEWS