IMQ, Jakarta —
Minyak mentah melonjak 1,5% pada perdagangan Kamis (23/2) dan ditutup di level tertinggi sejak Mei, menyusul kenaikan cadangan minyak AS yang lebih rendah dari perkiraan serta akibat melemahnya dolar AS.
Untuk kontrak April, minyak menguat US$1,55 menjadi US$107,83 per barel di New York Mercantile Exchange.
Melemahnya dolar biasanya membuat harga komoditas, termasuk minyak, menguat. Indeks dolar turun menjadi 78,083 dari posisi sehari sebelumnya di 79,207.
Sebelumnya, emas terus melaju Kamis (23/2) karena terdorong oleh melemahnya dolar AS dan ekspektasi bahwa bank-bank sentral di dunia akan mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter untuk beberapa waktu ke depan.
Emas untuk pengiriman April ditutup menguat US$16,30, atau 0,9%, menjadi US$1.788,20 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange.
Sehari sebelumnya emas berada di level US$1.771,30 per ons, yang merupakan level tertinggi sejak medio November.
Investor memburu kembali emas setelah sempat melemah akibat mengecewakannya data ekonomi China dan meredanya optimisme terhadap kesepakatan bailout untuk Yunani.
Pada medio September, emas sempat menyentuh level US$1.800 per ons setelah pada akhir Agustus mencatat rekor di level US$1.891,90 per ons.
"Pergerakan emas yang menguat Rabu menjadi semacam pengingat, jika pasar membutuhkan, bank-bank sentral akan mempertahankan pelonggaran kebijakan moneter," kata Michael Hewson, analis pasar dari CMC Markets.
Untuk harga logam lainnya, tembaga untuk kontrak Maret turun 2 sen, atau 0,5%, menjadi US$3,81 per pons.
Perak mengikuti emas, dengan kontrak Maret menguat US$1,20, atau 3,5%, menjadi US$35,46 per ons.











