IMQ, Jakarta —
Rally bursa saham global tertahan oleh kekhawatiran atas perekonomian Eropa dan China yang kembali mencuat.
Data Purchasing Managers Index (PMI) Eurozone yang menjadi leading indicator atas gambaran ekonomi secara utuh turun menjadi 49,7 dari 50,4 bulan lalu. Below 50 menunjukkan kontraksi ekonomi dan mengindikasikan potensi resesi setelah GDP growth zona euro terkontraksi 0,3% kuartal IV tahun lalu.
Dari China kekhawatiran yang serupa juga muncul setelah data PMI bulan ini sebesar 49,7.
Sebelumnya Eropa juga disuguhi berita penurunan rating Yunani menjadi C atau satu level di atas default. Tapi default di Yunani bukan lagi hal baru di telinga investor, karena sejak rencana debt swap dan haircut utang diajukan, Yunani praktis telah mengalami default. Pasar juga ragu Yunani dapat menepati janjinya melakukan pengetatan anggaran terutama pasca Pemilu April nanti.
Begitulah market, rally dapat berlanjut saat kekhawatiran terus membayangi investor. "Climbing The Wall of Worry," adalah adagium market yang sangat populer. Jika semua pelaku pasar telah menjadi optimistis, maka rally pun berakhir. Dari empat jenis pasar yang dijelaskan oleh John F. Murphy dalam bukunya "Intermarket Analysis", ada satu pasar yang selalu bergerak lagging atau terlambat, yaitu pasar komoditas.
Saat banyak harga saham telah mencapai level all time high-nya, saham-saham komoditas masih tetap laggard. TINS, ITMG dan BHIT pantas dicermati untuk saat ini. ITMG yang royal membagi dividen tunai akan makin besar bagian dividennya setelah melaporkan kenaikan laba 168%. TINS masih dengan cerita lamanya, namun dengan babak baru setelah breakout garis longterm downtrend-nya. BHIT, penggembira yang mulai cari perhatian dengan kabar akuisisi tambang barunya.











