IMQ, Jakarta —
Setelah melalui hampir sepanjang perdagangan di zona merah, emas berjangka akhirnya ditutup menguat, Rabu (22/2), sekaligus mencatat level tertinggi dalam tiga bulan.
Melemahnya harga emas di hampir sepanjang perdagangan itu terjadi setelah optimisme dari kesepakatan di Yunani mulai mereda menyusul data ekonomi China yang mengecewakan dan juga akibat dari aksi ambil untung para investor.
Emas untuk pengiriman April menguat US$12,80, atau 0,7%, menjadi US$1.771,30 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange, yang merupakan level penutupan tertinggi sejak medio November.
Yang membantu emas menguat adalah naiknya harga platinum dan palladium. Kenaikan harga ini terjadi menyusul berlanjutnya aksi unjukrasa di Afrika Selatan, yang merupakan eksportir platinum terbesar dunia.
Yunani masih tetap menjadi perhatian setelah Fitch Ratings memangkas peringkat utang pemerintah Yunani menjadi C dari sebelumnya CCC.
Sementara penguatan dolar AS ikut memberikan tekanan pada emas dan komoditas lainnya. Indeks dolar AS menguat menjadi 79,207 dari sehari sebelumnya di posisi 79,023.
Namun, kabar yang menyebutkan bahwa Beijing telah menurunkan giro wajib minum bagi perbankan telah membantu penguatan harga emas dan komoditas lainnya.
Untuk logam lainnya, tembaga untuk kontrak Maret turun kurang dari 1 sen menjadi US$3,83 per pons. Perak untuk kontrak Maret melemah 18 sen menjadi US$34,25 per ons.
Sementara platinum untuk kontrak April menguat US$35,90, atau 2,1%, menjadi US$1.720,80 per ons. Palladium untuk kontrak Maret naik US$7, atau 1%, menjadi US$717,75 per ons.
Itu merupakan level penutupan tertinggi bagi platinum dan yang pertama berada di atas level US$1.700 per ons sejak akhir September. Untuk palladium, ini juga merupakan level penutupan tertinggi dalam lima bulan.











