IMQ, Jakarta —
Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour Persero Intan Abdam Katopo mengungkapkan Inna Samudra Beach, salah satu dari 12 hotel yang dikelolanya selalu merugi. Hal ini dilatarbelakangi konsep awal pembentukan sebagai 'Casino Hotel' tidak terealisasi.
"Pada masa pembangunannya berkonsepkan kasino, padahal mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Sehingga mau tidak mau rugi," kata Intan saat ditemui usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (22/2).
Menurutnya, Hotel Inna Samudra sudah ada sejak zaman Soekarno dan terus dilakukan renovasi di beberapa tempat. Kerugian Inna Samudra Beach sudah menunjukkan perbaikan, yang terlihat dari keterisian hotel sudah mencapai 30-40% bila dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya 10-15%.
Selain konsep kasino, kerugian Inna Samudra pun disebabkan oleh jarak tempuh yang cukup jauh.
"Orang pasti memilih lebih baik pariwisata ke Bali daripada harus menempuh perjalanan selama enam jam. Inna Samudra ini terletak di Pelabuhan Ratu," ujarnya.
Ia mengharapkan pembangunan jalan Tol Ciawi-Sukabumi dapat memberikan peluang besar bagi perseroan. Tahap awal, pembangunan direalisasikan dari Ciawi ke Lido, yang notabene masih jauh dari hotel di Pelabuhan Ratu.
Selain itu, perkembangan perekonomian dan pariwisata di daerah pantai Selatan Sukabumi juga terbatas dan lebih lambat dibanding dengan daerah lainnya.
Guna menggenjot kinerja Inna Samudra Beach, perseroan akan melakukan efisiensi lahan dengan memberikan beberapa hektar lahan untuk dijadikan tempat olahraga seperti outbound, selain penggunaan lift yang hemat energi.











