IMQ, Jakarta —
Krisis ekonomi global terutama di beberapa negara maju seperti AS dan sebagian Eropa tampaknya sejauh ini belum menemukan solusi jitu dan komprehensif.
Krisis yang berawal dari masalah subprime mortgage beberapa investment bankers dunia pada 2008 tersebut terus menjalar ke masalah defisit fiskal negara-negara maju.
Masalah fiskal terutama “imbalance” rasio utang terhadap PDB yang semakin kronis, khususnya negara PIGIS (Portugal, Italia, Greek, Irlandia dan Spanyol), Jepang dan AS seakan membentur jalan buntu. Maka tidak mengherankan, jika lembaga pemeringkat seperti S&P, Moody’s dan Fitch akhir-akhir ini sibuk men-downgrade peringkat utang berbagai negara maju.
Masalah utama yang menjangkiti perekonomian negara-negara maju tersebut dapat ditinjau dari sisi fundamental moneter maupun fiskal. Dari sudut moneter, pada umumnya advanced country mengalami “low interest rate” dan “over liquidity”sebagai ciri utama negara yang sedang mengalami slowing down to crisis. Sedangkan dari sisi fiskal, masalah utamanya mencakup disiplin fiskal yang tidak terkendali sehingga menciptakan “high gross government debt” sekaligus “high deficit”.
Negara-negara PIGIS yang bermasalah rata-rata mempunyai rasio utang terhadap PDB di atas 100%, bahkan Yunani sekitar 160% sedangkan Jepang melampaui 200%.
Sejauh ini, Uni Eropa (UE) hanya mengandalkan ekonomi Jerman dan Perancis saja sambil berharap beberapa anggota lainnya tidak terperosok seperti PIGIS. Namun prakiraan ekonomi Jerman dan Perancis pada 2012 diprediksi menurun hingga 23% dibandingkan 2011. Betapa tidak, perekonomian negara-negara maju yang selama ini mengandalkan kecanggihan pasar finansial melalui pasar futures dan derivative semata sudah mencapai titik jenuhnya.
Berbagai solusi finansial terutama “bail out” bisa jadi meringankan namun jangan berharap dana talangan tersebut dapat menyembuhkan krisis Eropa dengan cepat.
Negara-negara maju juga semakin kehilangan daya saingnya dibandingkan dengan kawasan Asia, misalnya. Semakin rendahnya daya saing tersebut akan menciptakan tingkat pengangguran yang semakin tinggi (high unemployment) dan defisit perdagangan yang semakin lebar (high deficit).
Mereka harus kembali melakukan penguatan industri dan sektor riil lainnya agar krisis tidak semakin dalam. Namun di sisi lain, usia penduduk advanced countries rata-rata sudah melewati masa produktif (aging society). Menurut World Wealth Report 2011, usia 56-65 tahun di Eropa dan AS-Kanada mencapai 31% dan 66-75 tahun mencapai 32% dari populasinya.
Kombinasi berbagai permasalahan fundamental makroekonomi di negara-negara maju tersebut akan berdampak pada rendahnya pertumbuhan ekonomi (low growth) dan menurunnya prospek (future growth opportunity) berinvestasi sehingga peringkat investment grade-nya akan semakin rendah. Dengan kondisi faktor-faktor ekonomi yang memprihatinkan seperti itu, maka diprediksi advanced countries akan mengalami kesulitan untuk kembali menggapai kejayaannya sebelum ini.











