IMQ, Jakarta —
Kementerian Badan Usaha Milik Negara berencana membentuk induk usaha (holding) BUMN pariwisata. PT Hotel Indonesia Natour Persero dan PT Bali Tourism Development Corporation Persero akan dilebur, sementara PT TWC Borobudur Prambanan Ratu Boko Persero berdiri sendiri (stand alone).
"Mengenai rencana holding BUMN pariwisata, BTDC dan HIN akan disatukan. Sedangkan PT TWC tetap dipertahankan berdiri sendiri (stand alone) karena terkait dengan pelestarian budaya," kata Deputi Menteri BUMN bidang Jasa Parikesit Suprapto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI dengan Kementerian BUMN dan Direksi HIN di Jakarta, Rabu (22/2).
Menurutnya, BTDC dan PT HIN akan dijadikan holding, namun pemerintah akan melakukan kajian terlebih dahulu dalam pembentukan holding tersebut.
Rencana pembentukan holding BUMN pariwisata sesuai dengan Masterplan BUMN Tahun 2010-2014. Pembentukan ini juga menyusul rencana pengurangan perusahaan pelat merah.
Sebelumnya, pada masa kepemimpinan Menteri BUMN Sofyan Djalil, rencana pembentukan holding BUMN pariwisata sudah pernah digulirkan, namun urung dilakukan sebab kesulitan mencari konsultan untuk mengkaji kemungkinan pembentukan holding tersebut.
Pada waktu itu, Kementerian BUMN beranggapan BUMN yang bergerak di bidang perhotelan dinilai belum mampu menyumbangkan kontribusi yang berarti bagi negara. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi beban keuangan negara terus merugi.
Oleh karenanya, upaya restrukturisasi mendesak dilakukan. Salah satunya melalui sinergi antar BUMN perhotelan dan pariwisata.
Pada 2010, HIN berhasil membukukan laba bersih secara signifikan, yakni naik tiga kali lipat menjadi Rp27,743 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp8,730 miliar. Pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan pendapatan usaha dari Rp275,458 miliar menjadi Rp300,262 miliar. Total aset perusahaan hingga 2010 mencapai Rp631,043 miliar.
Sementara PT BTDC sepanjang 2010 mencatat penurunan laba setelah pajak dari Rp42,707 miliar pada 2009 menjadi Rp38,525 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh pendapatan usahanya yang turun tipis dari Rp78,84 miliar menjadi Rp75,298 miliar.











