IMQ, Jakarta —
Minyak mentah menguat 2,5%, Selasa (21/2), untuk menyentuh level tertinggi dalam sembilan bulan setelah melewati US$105 per barel akibat kekhawatiran terjadi gangguan pasokan menyusul ancaman Iran menghentikan pengiriman minyak ke sejumlah negara Eropa lainnya.
Penguatan harga minyak mentah ini juga ditunjang oleh kondusifnya situasi di Eropa terkait dengan persetujuan pengucuran bailout tahap kedua untuk Yunani.
Minyak mentah untuk pengiriman Maret naik US$2,60, atau 2,5%, menjadi US$105,84 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini adalah level penutupan tertinggi minyak sejak awal Mei tahun lalu.
Sementara harga minyak acuan Eropa, Brent, diperdagangkan di atas level US$120 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juni 2011.
Di pasar lainnya, emas menutup perdagangan Selasa (21/2) di level tertinggi dalam lebih dari dua pekan setelah para pelaku pasar menyambut persetujuan dana talangan tahap kedua bagi Yunani.
Untuk pengiriman April, emas menguat US$32,60, atau 1,9%, menjadi US$1.758,50 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Ini merupakan level penutupan tertinggi sejak 2 Februari lalu.
“Emas kini lebih menjadi aset berisiko melebihi lainnya, dengan mengikuti penguatan di bursa saham dan komoditas lainnya," kata Frank Lesh, broker dan futures analyst dari FuturePath Trading di Chicago.
Sementara logam lainnya juga menguat mengikuti emas, seperti tembaga untuk pengiriman Maret yang naik 13 sen menjadi US$3,84 per pons. Perak untuk kontrak Maret menguat US$1,21 menjadi US$34,43 per ons.











