IMQ, Jakarta —
Bisnis kelapa sawit pada Tahun Naga Air dipercaya masih memberikan marjin yang menggiurkan. Sebut saja, PT Salim Ivomas Pratama dengan cadangan lahan yang cukup luas, yakni mencapai 483.000 hektar.
Dari cadangan lahan ini, sekitar 150.000 hektar masih belum ditanami. Setiap tahunnya, perseroan menanam baru di lahan seluas 15.000 hektar hingga 20.000 hektar. Dari sisi fundamental, bisnis perusahaan cukup komplet, yakni merambah hulu hingga hilir.
Salim Ivomas merupakan salah satu perusahaan perkebunan terbesar dan paling terintegrasi secara vertikal di Indonesia dengan kegiatan usaha meliputi pembudidayaan bibit kelapa sawit, perkebunan dan pabrik pengolahan, hingga penyulingan dan distribusi minyak goreng dan margarin. Kebunnya pun tersebar dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa.
Tak heran, bila rasio harga terhadap laba bersih atau price to earning ration (PER) hanya 9,7 kali, dibanding dengan PER industri 11 kali.
Tim Riset MNC Securities mengungkapkan cadangan lahan yang masih luas memberikan peluang baru bagi perseroan untuk menanam kembali sawitnya. Artinya, kemampuan untuk memproduksi semakin terbuka lebar. Lihat saja, pada kuartal III-2011 Salim Ivomas berhasil mencatat laba bersih sekitar 188,04% menjadi Rp1,765 triliun.
"Dengan lahan yang banyak dipastikan perseroan memberikan hasil yang maksimal," demikian riset MNC Securities 21 Februari 2012.
Untuk menanam sawitnya, Salim Ivomas sudah menganggarkan dana dari hasil penawaran umum saham perdana sekitar 35%. Dana ini guna membiayai penanaman baru, pemeliharaan tanaman, serta pembangunan fasilitas. Dana IPO yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp3,47 triliun.
Anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur ini menargetkan dalam tiga tahun ke depan menanami 280 ribu hektar (ha) kelapa sawit. Sementara pada tahun lalu perseroan telah menanam 204 ribu ha kelapa sawit. Perseroan akan mengembangkan lahan sekitar 15-20 ribu ha kelapa sawit per tahun. Pada 2015 akan ada tambahan 75 ribu ha.
Untuk komoditas lain, penanaman tebu ditambah menjadi 18 ribu ha di Sumatera Selatan dalam waktu dua tahun dari luas lahan sebesar 11 ribu ha. Selain kelapa sawit, perusahaan juga memiliki perkebunan karet, kakao, tebu dan teh.
Untuk memaksimalkan penanaman dengan produksi, Salim Ivomas berencana membangun dua pabrik masing-masing berkapasitas 40 ton per jam dengan nilai investasi Rp90-100 miliar.
"Tahun ini, PE dan PVB perseroan masing-masing 12,98 kali dan 1,55 kali," hitungnya.
Adapun pemegang saham setelah penawaran umum saham perdana yakni PT Indofood Oil and Fats Pte Ltd sebesar 72%, PT Indofood Sukses Makmur Tbk sebesar 6,40%, PT Mandiri Investama Sejati sebesar 1,03%, PT Bina Makna Indopratama sebesar 0,31%, PT Multi Langgeng Nusantara sebesar 0,26%, dan masyarakat sebesar 20%.











