IMQ, Jakarta —
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) berencana melakukan studi kelayakan pembangunan trans Sumatera bersama bersama seluruh pemerintah daerah provinsi di Sumatera, Kementerian Pekerjaan Umum, PT Perkebunan Nusantara, Badan Pertanahan Nasional (BPN) pada pekan depan.
"Kita akan duduk bersama menindaklanjuti nota kesepahaman kemarin. Studinya sudah ada dan baru menginventarisasikannya," kata Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman kepada wartawan di Jakarta, Selasa (21/2).
Menurutnya, pertemuan ini juga membahas soal pembebasan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan tol Sumatera. Untuk itu, perseroan mengajak PTPN yang memiliki lahan perkebunan di sepanjang jalur Sumatera untuk diinventarisasikan.
"Pemda sih sudah siap dengan lahan. Untuk itu, kita akan bicarakan lagi dengan PTPN," katanya.
Perseroan juga mengajak BUMN kontraktor untuk menggarap tol Sumatera tersebut. Diakuinya, tiga provinsi yang sudah siap membangun jalan tol antara lain Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Bahkan, ketiga provinsi ini sudah memberikan gambaran umum pembangunan jalan tol.
Ia memaparkan jalan tol Padang - Sicincin diperkirakan sekitar 27 kilometer, Medan - Kuala Namu sepanjang 25 kilometer, Kuala Namu - Tebing Tinggi sekitar 35 kilometer. Diharapkan seiring dengan pertumbuhan perekonomian Indonesia, jalan tol trans Sumatera dapat terealisasi dengan cepat.
"Kita sudah siap membangunnnya sepanjang proyeknya dinyatakan layak," ungkapnya.
Kementerian Pekerjaan Umum memprioritaskan pembangunan trans Sumatra sepanjang 2.700 km dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung berkonsep High Grade Highway (HGH) dengan perkiraan anggaran Rp99,88 triliun.
Ruas jalan tersebut akan dibangun di sepanjang duplikasi jaringan jalan Timur Sumatera, yakni sedikit agak bergeser dari Lintas Timur Sumatera yang saat ini telah eksisting. HGH Trans Sumatera ini terdiri atas Koridor Bakauheni – Banda Aceh sepanjang Lintas Timur Sumatera (2.014 km) yang disertai jalan penghubung (feeder) sepanjang 720 km.











