IMQ, Jakarta —
Minyak mentah acuan AS mulai turun dari level tertingginya dalam sembilan bulan pada perdagangan elektronik di Asia, Selasa (21/2), meski sejumlah analis melihat peluang penguatan akan terjadi dalam waktu dekat.
Minyak mentah New York Mercantile Exchange untuk pengiriman Maret diperdagangkan di level US$104,78 per barel, turun 66 sen atau 0,6% dari US$105,44 per barel pada perdagangan di AS, Senin (20/2).
Namun, harga minyak mentah untuk kontrak Maret ini masih tetap lebih tinggi sekitar 2,5% dari level penutupan akhir pekan lalu di US$103,24, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Barat yang mengancam pasokan minyak global.
Untuk diketahui, pada Senin (20/2), Iran dikabarkan menghentikan pasokan minyak ke Inggris dan Prancis, dan negeri itu juga tengah menyiapkan untuk melakukan hal yang sama ke sejumlah negara Eropa lainnya yang ikut-ikutan mengembargo minyak Iran.
Meski demikian, menurut International Energy Agency, Uni Eropa sudah menyiapkan diri menghadapi ancaman penghentian pasokan minyak dari Iran.
Analis di Barclays Capital mengatakan bahwa secara keseluruhan kondisi saat ini positif bagi minyak mentah.
Tetapi untuk jangka panjang, tingginya harga minyak mentah ini akan mengguncang pertumbuhan ekonomi global.











