Search:
Tuesday, Oct-15 2019 08:52 WIB
  • AGRI 1,348.280 0.000 (0.000%)
  • BASIC-IND 863.720 0.000 (0.000%)
  • BISNIS-27 530.390 0.000 (0.000%)
  • COMPOSITE 6,126.880 0.000 (0.000%)
  • CONSUMER 2,164.150 0.000 (0.000%)
  • DBX 1,141.550 0.000 (0.000%)
  • FINANCE 1,233.980 0.000 (0.000%)
  • I-GRADE 170.150 0.000 (0.000%)
  • IDX30 519.740 0.000 (0.000%)
  • IDX80 135.930 0.000 (0.000%)
  • IDXBUMN20 375.390 0.000 (0.000%)
  • IDXG30 134.900 0.000 (0.000%)
  • IDXHIDIV20 472.350 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-COM 265.430 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-LIQ 315.110 0.000 (0.000%)
  • IDXV30 134.660 0.000 (0.000%)
  • INFOBANK15 941.190 0.000 (0.000%)
  • INFRASTRUC 1,209.990 0.000 (0.000%)
  • Investor33 445.350 0.000 (0.000%)
  • ISSI 188.020 0.000 (0.000%)
  • JII 676.880 0.000 (0.000%)
  • JII70 230.370 0.000 (0.000%)
  • KOMPAS100 1,225.570 0.000 (0.000%)
  • LQ45 954.470 0.000 (0.000%)
  • MANUFACTUR 1,429.360 0.000 (0.000%)
  • MBX 1,699.190 0.000 (0.000%)
  • MINING 1,611.860 0.000 (0.000%)
  • MISC-IND 1,148.020 0.000 (0.000%)
  • MNC36 333.000 0.000 (0.000%)
  • PEFINDO25 345.030 0.000 (0.000%)
  • PROPERTY 500.310 0.000 (0.000%)
  • SMinfra18 318.390 0.000 (0.000%)
  • SRI-KEHATI 381.220 0.000 (0.000%)
  • TOTAL_MARKET 6,126.880 0.000 (0.000%)
  • TRADE 798.980 0.000 (0.000%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
Percepat Proyek Untungkan PGAS
Published: 24 Aug 2018 04:50 WIB


IMQ, Jakarta —  Dalam setahun terakhir, setelah penurunan saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk mentok di level Rp1.400 pada Oktober 2017. Kini, sahamnya cenderung naik lagi, dan sempat mencapai Rp2.700 pada Januari 2018.

“Namun, seiring dengan penurunan IHSG beberapa bulan lalu dan saham PGAS mencapai level Rp1.525 pada Juli kemarin, kini cenderung naik lagi. Secara teknikal, hal ini mengkonfirmasi bahwa level Rp1.400 yang dicapai PGAS pada Oktober 2017 lalu sudah merupakan bottomnya,” kata Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat, melalui risetnya edisi Agustus 2018.

Pada kuartal I 2018, pendapatan PGAS mencapai US$872 juta, di mana US$219 juta atau 25% berasal dari usaha produksi gas (hulu), pengolahan gas (hilir), dan lain-lain. Kendati pendapatan dari usaha di luar distribusi gas cukup besar, namun laba dari unit-unit usaha baru justru minus.

“Namun, ini berarti laba bersih PGAS pada hari ini akan lebih besar andaikan perusahaan tetap fokus pada bidang usaha aslinya, yakni distribusi gas. Sebenarnya di luar keputusan manajemen untuk masuk ke hulu, hilir, dan lainnya, maka PGAS juga terus membangun jaringan pipa gas baru untuk memperluas usaha distribusi gasnya,” jelas dia.

Saat ini, perusahaan tengah menyelesaikan pipa transmisi gas Duri – Dumai di Riau, yang akan disambungkan dengan jaringan pipa gas di Kota Medan dan Deli Serdang. Sebenarnya, pemerintah sudah memerintahkan PGAS untuk membangun jaringan pipa gas di Sumatera Bagian Utara sejak 2014.

“Ada faktor lain yang membuat perusahaan belum profitable adalah cara kerja perusahaan yang tidak lagi efisien. Kita tahu PGAS merupakan salah satu big caps paling profitable di Bursa di masa lalu, bahkan lebih profitable dibanding emiten-emiten perbankan dan sebagian emiten consumer goods,” ujarnya.

Alasannya adalah PGAS membeli gas dari produsen (Conoco Phillips, Pertamina, dll) pada harga fix yang nyaris tidak berubah dalam jangka panjang, namun harga jual PGAS ke konsumen cenderung naik dari waktu ke waktu karena mengikuti inflasi dan faktor-faktor lain.

Kemudian, dengan jaringan pipa gas-nya yang terbesar di Indonesia, maka PGAS nyaris memonopoli usaha distribusi gas di tanah air, termasuk bisa menekan produsen untuk menjual gas mereka pada harga rendah.

“Karena PGAS terbilang lambat dalam hal menambah jaringan pipa-pipa gasnya, sementara kompetitor juga mulai bermunculan salah satunya Rukun Raharja/RAJA, maka PGAS tidak lagi monopoli seperti dulu, di mana pangsa pasarnya turun dari tadinya 92% se-Indonesia, menjadi hanya 81% pada akhir 2014, dan pendapatannya jalan di tempat sejak 2014, maka kemungkinan pangsa pasarnya sekarang sudah turun lagi,” paparny.

Jika kondisi ini tidak juga berubah, maka sulit untuk membayangkan bahwa PGAS akan kembali mencetak ROE sekitar 30 – 40% seperti di masa lalu.
Author: Susan Silaban
-
POPULAR NEWS