IMQ, Jakarta —
Uni Eropa menyatakan dapat mengatasi penghentian tiba-tiba pasokan minyak dari Iran karena sejumlah negara di zona euro sudah melakukan sejumlah perubahan kebijakan untuk mengantisipasi penerapan embargo atas minyak impor dari Iran.
Hal itu ditegaskan pejabat International Energy Agency, Senin (20/2), menyusul ancaman Iran untuk memperluas embargo minyak ke negara-negara Eropa lainnya yang ikut mendukung sanksi terhadap negeri Persia itu. Sebelumnya, Iran hanya akan menghentikan pasokan minyak untuk Inggris dan Prancis.
"Prancis dan Inggris sudah menghentikan pembelian minyak dari Iran sebelum embargo terhadap minyak impor dari Iran diberlakukan pada Juli mendatang," kata direktur IEA Didier Houssin.
Namun Houssin juga memperingatkan perseteruan antara Barat dengan Iran ini berpotensi memukul perekonomian global karena akan memicu harga minyak melonjak.
Sementara itu, harga minyak mentah menyentuh level tertinggi dalam sembilan bulan setelah pada perdagangan Senin (20/2) berada di atas level US$105 per barel. Hal ini dipicu oleh ancaman Iran untuk memperluas embargo minyak tak hanya terhadap Inggris dan Pancis, tapi ke negara Eropa lainnya.
Sehari setelah Teheran menyatakan telah menghentikan pengapalan minyak ke Prancis dan Inggris, pimpinan perusahaan minyak milik negara Iran mengatakan jika negara Eropa lainnya terus ikut melakukan embargo terhadap impor minyak Iran, maka negeri Persia itu juga akan menghentikan pasokan minyak kepada negara-negara itu.
Minyak mentah berjangka untuk pengiriman Maret menguat hingga level US$105,44 per barel dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile. Harga kontrak itu naik 93 sen menjadi US$103,24 per barel dalam perdagangan di pasar reguler akhir pekan lalu.
Pasar di AS pada Senin ini libur untuk merayakan Presidents Day.
Melemahnya dolar AS juga ikut menunjang penguatan harga minyak mentah, dengan indeks dolar melorot menjadi 78,989 dari 79,334 pada perdagangan di Amerika Utara akhir pekan lalu.











