IMQ, Jakarta —
Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) telah underperform sekitar 10% terhadap IHSG dikarenakan reaksi yang berlebihan terhadap penurunan Surat Pembendaharaan Negara (SPN) tiga bulan dan pinjaman ke Berlian Laju Tanker Tbk.
Menurut analis Samuel Securities Joseph Pangaribuan, dampaknya minim terhadap laba bersih terkait kedua isu tersebut. Saat ini, momentum yang tepat untuk mengakumulasi saham BBNI.
SPN tiga bulan, yang merupakan suku bunga acuan variable bond turun menjadi 1,68% pada lelang 6 Februari 2012, jauh lebih rendah dari rata-rata tahun 4,82%. BNI memiliki Rp15,6 triliun variable bond atau mewakili 6,9% dari total earning assets.
"Kami menghitung setiap penurunan 1% SPN hanya akan menurunkan operating income 0,6%," kata Joseph dalam risetnya Februari 2012.
Pinjaman ke BLTA mencapai Rp270 miliar dengan status kolektibilitas lancar. Sebanyak Rp210 miliar telah dialihkan kepada anak usaha BLTA, PT Buana Listya Tama Tbk, sedangkan sisanya dalam upaya pengalihan dari BLTA ke anak usaha.
"Tidak terdapat permasalahan pembayaran dari BULL ke BBNI, karena BBNI langsung menerima pembayaran dari pendapatan yang diterima BULL dari Pertamina," ungkapnya.
Pembayaran dari Pertamina dan BULL juga tidak akan mengalami permasalah selama ini. Kemungkinan skenario terburuk hanyalah pencadagangan sebesar Rp60 miliar, yang saat ini berada di BLTA.
Tahun ini, BNI menargetkan laba bersih sekitar Rp6,760 triliun yang didukung oleh pendapatan operasionalnya Rp25,716 triliun. Untuk NIM, Samuel memperkirakan pada level 5,6%, dengan return on equity (ROE) 17,2%.
Dengan memfaktorkan kedua sentimen tersebut, laba bersih dari BBNI hanya akan turun sebesar 1,8% dari proyeksi Samuel sebelumnya. Dampak juga sangat terbatas pada valuasi Samuel dengan target harga menjadi Rp4.900 atau hanya menurunkan 2% dari target sebelumnya.
"Untuk itu, kami tetap merekomendasikan beli untuk BBNI dan mempertahankan sebagai stock pick," tulis Joseph.











