IMQ, Jakarta —
Harga minyak mentah acuan AS melonjak dalam perdagangan elektronik di Asia, Senin (20/2), yang merespons positif penguatan bursa regional menyusul keputusan Chian untuk melonggarkan kebijakan moneternyam, dan juga akibat tensi geopolitik yang terus berlanjut antara Iran versus Barat.
Minyak mentah untuk pengiriman Maret naik US$1,79, atau 1,7%, menjadi US$105,03 per barel di New York Mercantile Exchange dalam perdagangan elektronik Asia.
Minyak ditutup di level tertinggi dalam sembilan bulan pada perdagangan Jumat (17/2) di New York, yang dipicu oleh kecemasan atas ketegangan geopolitik dan meningkatnya optimisme mengenai resolusi krisis utang Yunani.
Pekan lalu, People’s Bank of China menurunkan rasio giro wajib untuk bank-bank besar, yang dimaksudkan untuk meningkatkan likuiditas perekonomian terbesar kedua dunia itu.
Langkah itu, bersama dengan ekspektasi pengucuran bailout tahap kedua bagi Yunani ketika para menteri zona euro bertemu pada Senin ini, telah memberikan dorongan bagi penguatan harga saham dan komoditas di pasar Asia.
Melemahnya dolar AS juga menjadi penopang kenaikan harga minyak mentah, dengan indeks dolar turun menjadi 79,082 dari 79,334 pada akhir pekan lalu di Amerika Utara.











