IMQ, Jakarta —
Jepang mencatat rekor defisit perdagangan pada Januari, menyusul meningkatnya impor bahan bakar minyak untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik setelah sebagian besar reaktor nuklir dihentikan sejak tahun lalu akibat kebocoran PLTN Fukhusima.
Berdasarkan defisit Januari ini tercatat mencapai 1.475 miliar yen, yang merupakan angka tertinggi sejak 1979, demikian data kementerian keuangan yang dirilis Senin (20/2).
Angka terbaru ini tiga kali lebih besar ketimbang defisit yang terjadi setahun lalu yang sebesar 479,4 miliar yen dan dan melampaui rekor defisit sebelumnya yang mencapai 967,9 miliar yen yang terjadi pada Januari 2009 di tengah tekanan krisis keuangan.
Selama Januari, kinerja ekspor Jepang jatuh 9,3% menjadi 4.510 miliar yen akibat melemahnya kinerja ekspor semikonduktor dan peralatan elektronik lainnya.
Eksportir Jepang berjuang berat menghadapi menguatnya yen, yang menggerus pendapatan mereka dari ekspor dan membuat harga produk mereka mahal di luar negeri.
Sementara impor melonjak 9,8% menjadi 5.985 miliar yen, dengan pembelian gas alam cair (LNG) meningkat 74,3%, minyak mentah naik 12,7% dan batubara naik 26,5%.











