IMQ, Jakarta —
Sebagian besar perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia maupun tidak tercatat mencari dana segar dengan melakukan aksi korporasi. Sebut saja, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang berencana menerbitkan saham baru (rights issue) pada April mendatang.
RAJA akan memberikan tambahan 339,756 juta lembar saham baru kepada pemegang saham lama dengan ketentuan setiap pemegang 500 lembar saham lama berhak atas 250 saham baru pada harga Rp677 per lembar. Artinya, rasio dari rights issue adalah 2:1, di mana setiap pemegang dua lembar saham lama berhak atas 1 saham rights.
RAJA sudah menunjuk pembeli siaga (standby buyer) seperti PT Sentosa Bersama Mitra, yang menyerap saham-saham tersisa yang tidak dieksekusi oleh pemegang saham terdahulu. Sebelum aksi korporasi ini, SBM tidak memiliki hubungan sama sekali dengan perusahaan baik secara induk maupun anak perusahaan.
SBM sendiri tergolong perusahaan baru yang berdiri pada 10 Oktober 2011 dan bergerak di bidang perdagangan, pertanian, pembangunan, industri, transportasi darat, percetakan, jasa kecuali di bidang hukum, pajak, dan bidang perbengkelan.
Dengan aksi korporasi ini, RAJA akan memperoleh dana segara sekitar Rp230,015 miliar. Penggunaan dananya untuk menutupi seluruh utang surat promes perusahaan dengan pelunasan pokok dan bunga membutuhkan dana masing-masing Rp219 miliar dan Rp11 miliar.
Tim Riset e-Trading Securities mengungkapkan aksi korporasi ini akan mengakibatkan turunnya jumlah kewajiban perusahaan dan naiknya jumlah ekuitas perusahaan. Hal tersebut kemudian akan berdampak pada turunnya rasio utang (debt ratio) perusahaan dan turunnya laba per saham perusahaan (EPS).
"Perusahaan menetapkan harga eksekusi yang lebih tinggi dibanding harga pasar. Hal ini dapat membuat harga pasar bergerak mendekati harga eksekusi tersebut," demikian riset yang dipublikasi 17 Februari 2012.
Dengan komposisi bisnis baru pasca akuisisi, RAJA akan memiliki potensi tumbuh yang besar dibandingkan sebelum akuisisi. Hal ini juga turut didukung dengan kebijakan pemerintah mengenai energi migas yang dapat menunjang perkembangan bisnis perusahaan.
"Secara industri, sektor migas terutama gas alam merupakan faktor yang belum banyak dirambah oleh kalangan industri," telisiknya.
Selain itu, industri migas merupakan industri yang padat modal sehingga menyebabkan barrier entry industri ini cukup tebal yang membut persaingan menjadi kurang sehat.
EPS perusahaan sebelum melakukan aksi korporasi adalah Rp60, dan setelah aksi korporasi menjadi Rp40. Apabila menggunakan harga penutupan Rp620 per lembar, maka akan diperoleh PE perusahaan setelah aksi korporasi sebesar 16 kali.
Apabila menggunakan PE rata-rata industri untuk perusahaan-perusahaan sejenis di Asia Tenggara sebesar 15 kali dan EPS sebesar Rp40, maka diperoleh target harga wajar industri Rp586 per lembarnya.
"Secara teknikal, kendati masih dalam fase uptrend, melihat candlestick-nya yang membentuk pola hanging man, saham RAJA berpotensi terkoreksi untuk menguji level support dan retrecement Rp580," paparnya.
Apabila level ini berhasil ditembus, maka e-Trading percaya level support selanjutnya adalah Rp545.











