IMQ, Jakarta —
Para pemimpin Eropa berharap menteri keuangan negara-negara yang tergabung dalam zona euro akan mencapai kesepakatan pada Senin pekan depan (20/2) terkait dengan pengucuran bailout tahap kedua bagi Yunani.
Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Yunani Lucas Papademos dan Perdana Menteri Italia Mario Monti telah membahas situasi ini dalam sebuah conference call, Jumat (17/2), dan mereka yakin para menkeu itu akan menemukan solusi terkait isu-isu outstanding utang Yunani, kata juru bicara Merkel, Steffen Seibert, dalam pernyataan tertulisnya, Jumat.
Ekspektasi para petinggi Uni Eropa itu bahwa akan tercapai kata sepakat soal bailout Yunani telah mengangkat saham-saham di Eropa akhir pekan ini, sementara euro diperdagangkan di di posisi US$1,3159, menguat 0,3% dari posisi sehari sebelumnya.
Namun, para investor telah melihat sejumlah awal yang salah dari langkah para pemimpin Eropa itu. Pertama kali para pemimpin zona euro mengumumkan terjadi kesepakatan secara prinsip soal bailout tahap kedua itu pada Oktober lalu.
Sejak itu, gambaran ekonomi Yunani yang makin suram dan ketidakmampuan negeri itu mencapai target anggarannya telah memicu desakan agar Athena segera melakukan langkah lebih mendalam untuk meningkatkan pemangkasan anggaran dan langkah penghematan.
“Tapi tak satu pun dari langkah itu yang dapat menyelesaikan isu-isu fundamental dari perekonomian Yunani yang kian tak menentu. Dan kesepakatan itu masih akan menjadi buah bibir selama akhir pekan ini,” kata Kit Juckes, head of foreign exchange di Societe Generale.
Dan euro serta bursa saham AS menguat pada Kamis (16/2) menyusul laporan yang menyatakan European Central Bank (bank sentral Eropa) tengah menyiapkan langkah untuk melakukan swap sejumlah kepemilikan obligasi Yunani — sebuah langkah yang dilihat berpotensi membantu meringankan beban utang Yunani dan meredam ketakutan para pemegang obligasi sektor swasta untuk berpartisipasi dalam program bond swap secara sukarela.
Pasar juga mendapat sokongan dari beberapa kabar bahwa sikap Jerman telah melunak dari sebelumnya yang mendesak untuk menunda pengucuran bailout senilai 130 miliar euro (US$171 miliar) hingga setelah pemilu Yunani pada April. Spekulasi seputar langkah tersebut telah memicu kekhawatiran bahwa Yunani akan dipaksa untuk mengalami default pada 20 Maret mendatang, ketika negeri itu harus menghadapi jatuh tempo pembayaran yield obligasi sebesar €14,5 miliar.
The Financial Times melaporkan bahwa Athena akan mendapat pengawasan atas kemampuan negeri dalam penggunaan dana talangan itu. Belum lagi persyaratan untuk menyelesaikan 24 daftar langkah kebijakan sebelum akhir Februari sebagai syarat untuk mendapatkan kucuran bailout.
Kesepakatan yang akan diambil para menteri keuangan zona euro Senin pekan depan (20/2) sepertinya akan diikuti dengan dilakukannya bond swap sektor swasta, yang akan meringankan beban utang Yunani sebesar €100 miliar.
Waktu terus berjalan
Namun, untuk menghindarkan Yunani dari kondisi default pada 20 Maret, program bond swap harus dimulai pekan depan, kata Erik Nielsen, chief global economist di UniCredit Bank, London.
Sementara itu, sejumlah laporan media menyebutkan European Central Bank tengah menukar kepemilikan obligasi Yunani senilai €50 miliar dengan obligasi baru, yang akan kebal terhadap “collective action clauses” yang mungkin diterapkan oleh pemerintah Yunani.
Klausul seperti itu akan mengizinkan mayoritas pemegang obligasi untuk memaksa seluruh pemegang obligasi untuk berpartisipasi dalam program debt swap dan dapat dipakai jika jumlah partisipasi sektor swasta tak mencukupi dalam program bond swap sukarela.
European Central Bank, yang membeli sebagian besar obligasi dengan diskon besar untuk menurunkan biaya pinjaman Yunani, akan merealisasikan untung dari debt swap itu, dan hasil ini akan dikembalikan lagi ke bank sentral di masing-masing anggota zona euro.
Bank-bank sentral di zona euro kemudian dapat menggunakan uang ini untuk mengurangi outstanding utang Yunani, yang berpotensi menurunkan beban utang Yunani sekitar €15 miliar, berdasarkan kalkulasi Padhraic Garvey, ekonom dari ING Bank di Amsterdam.
Selain itu, European Central Bank sepertinya akan membatasi diri dari kemungkinan restrukturisasi utang di masa mendatang yang dapat diterapkan pada pemegang obligasi sektor swasta, ujar Garvey. Dan dengan bank sentral Eropa itu tidak menggunakan cara tersebut, maka ini memudahkan pemerintah Yunani memaksakan write down atas seluruh investor selain European Central Bank.
Dari situasi seperti ini, yaitu belum jelasnya rencana debt swap yang dicanangkan ECB, maka para pemegang obligasi Yunani wajib berhati-hati, sarannya.











