IMQ, Jakarta —
Minyak mentah berjangka berakhir menguat Jumat (17/2) untuk menggapai level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir setelah kecemasan atas ketegangan geopolitik terkait Iran meningkat dan tumbuhnya optimisme pasar bahwa Yunani segera mendapatkan bailout tahap kedua.
Minyak mentah untuk pengiriman Marey menguat 93 sen, atau 0,9%, menjadi US$103,24 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini merupakan level tertinggi minyak sejak 10 Mei.
Selama pekan ini, minyak mentah menguat 4,6%, yang merupakan penguatan dalam dua pekan berturut-turut.
Sehari sebelumnya, minyak mentah untuk pengiriman Maret menguat 51 sen, atau 0,5%, menjadi US$102,31 per barel di barrel New York Mercantile Exchange.
Untuk minyak Brent pengiriman April, Jumat (17/2), melemah 53 sen, atau 0,4%, menjadi US$119,58 per barel di ICE Futures, London.
Sebelumnya, menutup perdagangan Jumat (17/2), emas berjangka bergerak negatif setelah optimisme meningkat bahwa Yunani akan mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa untuk mendapatkan kucuran dana talangan tahap kedua.
Keyakinan bahwa Yunani akan segera mendapat aliran dana talangan tahap berikutnya, membuat daya tarik emas untuk investasi menjadi pudar.
Emas untuk pengiriman April ditutup turun US$2,50, atau 0,1%, menjadi US$1.725,90 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Dalam sepekan ini, harga emas bergerak mendatar.
Sementara pada perdagangan sehari sebelumnya, emas untuk pengiriman April naik 30 sen menjadi US$1.728,40 per ons.
Sebagian besar logam mengakhiri perdagangan akhir pekan ini ditutup melemah, seperti platinum untuk pengiriman April melemah 0,5% menjadi US$1.633,90 per ons.











