IMQ, Jakarta —
Situasi yang tak menentu terkait pengucuran dana talangan dari Uni Eropa yang belum mendapat persetujuan dari para menteri keuangan zona Eropa membuat Yunani berpotensi besar mengalami gagal bayar atas obligasinya yang akan jatuh tempo pada medio Maret 2012 mendatang.
Research dan Analysis Division PT Monex Investindo Futures, Ariana Nur Akbar mengungkapkan bagaimana Yunani membuat keputusan adalah sangat penting dan merupakan hal yang dinanti banyak kalangan.
Istilah “pick your poison” yang digunakan Marshall Auerback dalam penelusurannya di EconoMonitor memberikan penjelasan bagaimana Yunani terbagi menjadi dua belah pihak dengan kepentingannya masing-masing antara lain mengikuti Ikuti apa yang diinginkan Uni Eropa/IMF atau tetap mementingkan kepentingan internal untuk tidak memangkas anggaran.
Sebagaimana telah diungkapkan oleh Menteri Keuangan Yunani Evangelos Venizelos, pilihan yang dihadapi oleh Yunani saat ini adalah bagaimana membangun sebuah kesepakatan “win-win solution” dengan pihak yang disebut sebagai “Troika, yang terdiri dari ECB, IMF dan Uni Eropa, di mana negeri yang penuh dengan dongeng ataupun legenda dewa-dewinya tersebut harus membuat keputusan yang sulit dan rumit dengan dampak yang lebih buruk dari rencana yang telah dirancang sebelumnya.
Disatu sisi menurut Ariana, apabila Yunani harus mengikuti apa yang menjadi mandat warga negaranya untuk terus bertahan dengan kondisi perekonomian saat ini, maka potensi default bagi negara tersebut akan semakin besar dan tipis kemungkinan negara tersebut untuk pulih.
Di sisi lain, apabila Yunani menerima bantuan yang disebut dengan “the 2nd bailout”, maka kalangan politik yang berkuasa saat ini di negara tersebut harus bersiap untuk kehilangan dukungannya, sebuah polemik politik yang terus berkembang tanpa adanya arah yang jelas.
“Maka di sinilah “conflict of interest” berbicara, siapa yang lebih kuat akan menjadi pihak yang berhak membuat keputusan dan menentukan masa depan Yunani,” tutur Ariana.
Menurut Ariana, banyak kalangan pasar mempertanyakan keefektifan dana bantuan tersebut, terkait lemahnya komitmen Yunani dalam menghalau masalah ekonomi dan sistem keuangannya.
“Alih-alih menggunakan dana yang ada, pasar melihat sepertinya seberapa pun besarnya dana yang dikucurkan untuk negara tersebut sepertinya tidak akan pernah cukup dan potensi kick out dan default yang akan dialami Yunani akan semakin besar. Sebuah pengulangan yang tidak diharapkan pasar, termasuk investor dan trader,” ulasnya.
Ancaman badan pemeringkat rating pun sepertinya akan terus mendera. S&P yang sebelumnya sempat menjatuhkan peringkat hutang negara tersebut, kembali meneruskan terornya terhadap negara-negara Eropa lainnya, dimana potensi downgrade akan terus berlangsung bersama dengan badan pemeringkat lainnya seperti Moody’s dan Fitch.
Elisa Parisi-Capone, dalam sebuah tulisannya mengungkapkan, adanya pemulihan atau restorasi kepercayaan di Uni Eropa bergantung pada kemampuan Uni Eropa untuk memicu pertumbuhan dan mengurangi selisih kekuatan kompetitif yang sedang berlangsung.
Saat tindakan pemulihan fiskal semakin memperdalam resesi, kemungkinan untuk restrukturisasi dan pecahnya Uni Eropa harus dianggap sebagai risiko yang harus diambil.











