IMQ, Jakarta —
Minyak mentah mengakhiri perdagangan Rabu (15/2) di level tertinggi dalam lima pekan menyusul laporan cadangan minyak mentah AS yang turun signifikan disertai dengan kecemasan akan gangguan pasokan minyak terkait ketegangan Iran dengan Barat.
Para pejabat Iran membantah telah menahan pasokan minyak ke negara-nwgara Eropa, seperti yang dilaporkan sebelumnya, sebagai aksi balas dendam atas sanksi yang diterapkan Eropa bulan lalu. Namun, bantahan itu belum mampu meredam kecemasan pasar.
Minyak mentah untuk pengiriman Maret naik US$1,06, atau 1,1%, menjadi US$101,80 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini merupakan level penutupan tertinggi bagi minyak sejak 10 Januari lalu. Sebelum penutupan minyak sempat menembus US$102,54 per barel.
Selain Iran, yang ikut membantu kenaikan minyak adalah laporan Energy Information Administration yang menyatakan cadangan minyak untuk pekan yang berakhir pada 10 Februari turun 200.000 barel, sementara analis memperkirakan naik sebesar 1,9 juta barel.
Sebelumnya, emas berjangka menutup perdagangan Rabu (15/2) di zona positif, sekaligus mengakhiri pelemahan dalam tiga sesi terakhir. Pemacu kenaikan harga emas ini adalah berlanjutnya ketidakpastian masa depan Yunani.
Situasi yang tak pasti, terutama terkait dengan pengucuran dana talangan dari Uni Eropa yang belum mendapat persetujuan dari para menteri keuangan zona euro tersebut, membuat Yunani berpotensi besar mengalami gagal bayar atas obligasinya yang akan jatuh tempo medio Maret mendatang.
"Waktunya terbatas untuk menghindarkan meluasnya krisis utang zona euro ini dari Yunani ke negara-negara lain dengan dampak yang lebih besar, seperti Portugal, Spanyol dan Italia, dan sebagian besar upaya sudah dilakukan untuk mengatasi krisis ini," kata Jeff Wright, analis logam mulia dari Global Hunter Securities.
Emas untuk pengiriman April ditutup menguat di level US$1.728,10 per ons, atau naik sebesar US$10,40 di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange.











