IMQ, Jakarta —
Merujuk mendatarnya pergerakan indeks Dow Jones serta belum adanya sentimen positif dari dalam negeri diperkirakan akan membuat bursa Indonesia turut bergerak mendatar, di tengah masih adanya tekanan jual pada sektor perbankan.
"Tekanan jual di sektor bank akibat kekhawatiran tergerusnya marjin laba perbankan serta turunnya harga komoditi nikel sekitar 2% dan timah 2,6%," kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang di Jakarta, Rabu (15/2).
Ia memaparkan kondisi perekonomian global di mana rendahnya pertumbuhan penjualan retail AS pada Januari sekitar 0,4%, dibandingkan dengan perkiraan awal, terutama turunnya penjualan mobil dan suku cadang mobil. Bila mengeluarkan variabel mobil di penghitungannya maka penjualan retail tumbuh 0,7% (tertinggi selama 10 bulan terakhir.
Belum lagi, ancaman Moody's Investor Services yang melakukan downgrade untuk negara yang berperingkat 'AAA' seperti Prancis, Inggris, serta Austria, setelah sebelumnya Moody's men-downgrade dua notch untuk Spanyol dan satu notch untuk Italia, Portugal, Slovakia, Slovenia, dan Malta.
Downgrade negara-negara di Eropa ini menyusul janji pimpinan Partai Konservatif Yunani akan memegang perkataannya kepada Badan Kreditur setelah memberikan persetujuannya atas paket pengetatan anggaran di mana tahun 2012 adalah tahun kelima Yunani masuk dalam resesi setelah 2011 lalu dengan ekonominya tergerus 6,8%.
Angka ini, sambungnya, turun tajam 16% di bawah level tertinggi sebelum krisis dengan tingkat pengangguran Yunani 2011 mencapai 20% dari level 7,7% pada 2008.
"Dengan kondisi ini, IHSG diperkirakan bingung melanjutkan penguatan karena masih ada aksi beli walau berkurang," katanya.
IHSG akan diperdagangkan di kisaran 3.938-3.983. Dengan saham-saham pilihan seperti PT Astra International Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PTT PP Tbk, PT Multistrada Sarana Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, dan PT United Tractors Tbk.











