IMQ, Jakarta —
Setelah hampir sepanjang perdagangan Selasa (14/2) saham-saham di Wall Street melemah, menjelang penutupan terjadi aksi beli yang membuat sebagian besar saham berbalik arah menuju zona positif. Lantas apa pendorong aksi beli itu?
Pemacunya ternyata adalah sikap investor yang mengkaji kembali prospek penyelesaian krisis Yunani dan laporan penjualan ritel AS, yang meski lebih rendah dibandingkan perkiraan, tapi masih menunjukkan pertumbuhan.
Indeks Dow Jones Industrial Average akhirnya ditutup menguat tipis 4,24 poin menjadi 12.878,28. Sedangkan indeks S&P 500 melemah 1,3 poin menjadi 1.350,5. Untuk indeks Nasdaq Composite berakhir menguat 0,4 poin menjadi 2.931,83.
Departemen Perdagangan AS mengumumkan bahwa perdagangan ritel AS menguat 0,4% pada Januari, yang merupakan kenaikan tertinggi dalam empat bulan tapi masih di bawah ekspektasi yang sebesar 1%.
Kinerja penjualan ritel yang di bawah ekspektasi itu masih ditoleransi pasar, sehingga masih terjadi aksi beli yang membuat harga saham berbalik menguat, kata Marc Pado, analis bursa AS dari DowBulls.
Sementara itu, minyak mentah berjangka akhirnya tak mampu melanjutkan penguatan secara teknikal yang terjadi sejak awal perdagangan Selasa (14/2). Hal itu dipicu oleh melemahnya penjualan ritel AS, turunnya harga saham di New York dan menguatnya dolar AS.
Minyak mentah untuk pengiriman Maret turun tipis 17 sen, atau 0,2%, menjadi US$100,74 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara harga minyak Brent untuk kontrak Maret ditutup menguat 15 sen menjadi US$117,50 per barel di ICE Futures London.
Untuk gas alam pengiriman Maret berhasil melawan tren pelemahan dengan mencatat penguatan sebesar 4,2% menjadi US$2,53 per million British thermal units. Harga gas alam ini pada perdagangan Senin telah menyentuh level terendah dalam sembilan tahun, sehingga kini saatnya untuk rebound.
Sebelumnya, emas berjangka ditutup melemah, Selasa (14/2), yang merupakan pelemahan kali ketiga berturut-turut dalam tiga sesi perdagangan terakhir. Jatuhnya harga emas ini akibat menguatnya dolar AS.
Melemahnya penjualan ritel AS yang di bawah ekspektasi dan ketidakpastian terhadap apakah Yunani akan segera mendapatkan dana talangan, ternyata tak mampu mendorong penguatan emas.
Emas untuk pengiriman April turun US$7,20, atau 0,4%, menjadi US$1.717,70 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange.
Dalam perdagangan Selasa, emas sempat menyentuh level tertinggi di US$1.729,90 dan terendah di US$1.713,80. Selama tiga sesi terakhir, harga emas sudah anjlok sebesar lebih dari US$23 per ons.
“Kami melihat emas bereaksi terhadap dolar, yang menguat tipis pagi ini, tapi ketika dolar itu terus menguat, kami melihat terjadinya aksi jual emas,” kata Tom Essaye, editor dari 7:00’s Report.
Indeks dolar diperdagangkan di posisi 79,485, naik dari 78,963 dalam perdagangan di Amerika Utara, Senin (14/2).
Sementara perak juga ditutup melemah, yaitu untuk kontrak Maret turun 37 sen, atau 1,1%, menjadi US$33,35 per ons. Tembaga untuk kontrak Maret turun 2,5 sen menjadi US$3,82 per pons.
Kemudian platinum untuk kontrak April melemah US$21,70 menjadi US$1.628 per ons, sedangkan palladium untuk kontrak Maret berakhir di US$687,25 per ons, atau turun US$11,30.











