IMQ, Jakarta —
Singapore Telecommunications (SingTel) selama kuartal III-2011 mencatat kinerja kurang meyakinkan setelah laba bersihnya tergerus hampir 10% akibat melemahnya mata uang regional dan kerugian dari penurunan harga sahamnya di operator telekomunikasi India, Bharti Airtel.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Senin (13/2), SingTel menyatakan laba bersihnya turun 9,6% menjadi Sg$902 juta (US$719 juta) selama periode tiga bulan yang berakhir pada Desember.
Sementara pendapatan grup selama periode tersebut menguat 3% menjadi Sg$4,83 miliar.
Penurunan laba bersih kuartalan ini adalah yang keempat kalinya berturut-turut bagi Singtel dan terjadi di tengah meningkatnya jumlah pelanggan mobile di Singapura.
SingTel menambah 61.000 pelanggan mobile di Singapura pada kuartal tersebut, sehingga mengukuhkan pangsa pasarnya di puncak dengan sebesar 45,8%.
Namun, laba keseluruhan perusahaan ini terganggu oleh turunnya kontribusi dari afiliasinya di India, Bharti India, akibat melemahnya mata uang regional dan kerugian di bisnis 3G.
Bharti Airtel terutama terpukul oleh membengkaknya biaya peluncuran teknologi 3G dan melonjaknya biaya-biaya lainnya, sehingga laba sebelum pajak tergerus 30% per tahun menjadi Sg$128 juta.
SingTel memiliki 32,3% saham di Bharti Airtel, selain memiliki saham di Advanced Info Service (Thailand), Globe Telecom of the Philippines, Telkomsel (Indonesia), Pacific Bangladesh Telecom Limited dan Warid Telecom (Pakistan).
SingTel juga memiliki unit usaha di Australia, Optus, yang menghasilkan laba bersih kuartal III sebesar Aus$177 juta (US$190 juta), melonjak 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.











