IMQ, Jakarta —
Raksasa elektronik dan hiburan asal Jepang, Sony, menegaskan tidak akan meninggalkan bisnis televisi meski kerugian besar yang diderita perusahaan ini sebagian besar berasal dari divisi pembuatan layar kaca ini.
Hal itu dikatakan CEO Sony yang akan datang, Kazuo Hirai, di kantor pusat Sony di Tokyo, Senin (13/2), sekaligus merevisi rencana Sony sebelumnya yang akan keluar dari bisnis TV.
Kazuo Hirai, yang akan menggantikan posisi CEO sekarang, Howard Stringer, pada 1 April mendatang, mengatakan TV merupakan bagian yang vital yang menunjang kebesaran nama Sony selama ini. Hirai berjanji akan membalikkan posisi bisnis TV dari merugi menjadi menguntungkan pada 2014.
“Saya melihat bisnis televisi adalah sangat penting dan sebuah kategori produk integral bagi Sony. Saya pikir sangat sulit membayangkan Sony meninggalkan bisnis ini, karena bisnis ini pada dasarnya adalah pusat dari setiap industri hiburan,” katanya.
Seperti dialami vendor televisi lainnya, Sony mengalami tekanan hebat dari kian ketatnya persaingan dan menurunnya marjin serta menguatnya yen terhadap dolar AS dan euro.
Pekan lalu, Sony meningkatkan proyeksi laba bersihnya untuk tahun fiskal saat ini menjadi 220 miliar yen, atau naik dari proyeksi sebelumnya 90 miliar yen. Sumbangan terbesar terhadap kerugian itu, yakni sebesar 175 miliar yen—diperkirakan berasal dari bisnis TV.
Semakin menambah derita Sony, medio pekan lalu Standard & Poor’s menurunkan penilaiannya terhadap kelayakan kredit perusahaan ini satu tingkat menjadi ‘BBB+’, akibat buruknya kinerja lini bisnis TV.
Pada kesempatan itu, Hirai juga mengatakan bahwa ada sejumlah langkah yang akan dilakukan untuk mengembalikan Sony meraih laba, antara lain dengan pemangkasan biaya dan memproduksi TV yang disukai konsumen.











