IMQ, Jakarta —
Parlemen Yunani setuju untuk menerima persyaratan bagi cairnya dana bailout tahap kedua senilai €130 miliar. Sebanyak 199 orang dari total 300 anggota parlemen Yunani menyatakan persetujuannya, meski kerusuhan yang anarkis merebak di berbagai penjuru kota.
Dengan demikian Yunani terhindar dari potensi default dan chaos yang lebih besar. Investor global juga akan menyambut baik hasil ini, namun sentimen bursa saham Jakarta mungkin tidak lebih baik.
Setelah turun tajam Jumat lalu, IHSG sepertinya belum bebas dari ancaman koreksi lanjutan karena sentimennya belum berbalik positif. Indonesia tengah menghadapi persoalan yang tidak sederhana.
Memang, dengan status investment grade, arus modal asing pun kembali membanjiri Tanah Air, terutama pasca Moody's. Cadangan devisa RI naik di Januari menjadi $111,9 miliar dari $110,1 miliar.
Namun demikian aktivitas perekonomian cenderung menurun. Hal ini tercermin dari defisit neraca pembayaran RI di kuartal IV 2011 sebesar $3,7 miliar dari surplus $11,3 miliar di kuartal IV 2010.
BI memprediksi ekonomi RI akan tumbuh di rentang terbawah dari estimasi 6,3-6,7%. BI melihat ekonomi RI menurun di tengah likuiditas bank yang berlebih, hanya saja likuiditas tersebut lebih banyak berteduh di instrumen bank sentral. Satu indikator lainnya adalah penjualan motor yang turun 2,9% di Januari lalu dibanding Januari 2011.
BI pun memutuskan untuk menekan perbankan agar segera keluar dari BI dengan cara menurunkan BI Rate. Hingga akhir 2011, ada sekitar Rp690 triliun yang mengendap di BI. Masalahnya penurunan suku bunga acuan ini menekan pendapatan perbankan. BI mengindikasikan penurunan BI Rate lebih lanjut, terutama jika pembatasan BBM batal dilakukan.
Pelonggaran kebijakan moneter tentunya akan berdampak positif bagi sektor yang sensitif seperti otomotif, properti atau konstruksi. Adapun perbankan, akan keluar dari zona nyamannya di BI dan menemukan jalannya kembali ke jalur ekspansif sehingga margin pun terjaga. Butuh waktu, tapi arahnya akan seperti itu.
Satu saham properti yang patut diperhatikan adalah MDLN. Dibanding emiten properti lain yang umumnya agresif, Moderland yang memiliki landbank seluas 1.230 Ha ini lebih dikenal sebagai emiten properti yang konservatif. Namun kesan tersebut perlahan mulai ditinggalkan seiring dengan langkah perseroan melakukan right issue senilai Rp800 miliar akhir tahun lalu.
Perseroan kemudian menggunakan dana hasil right issue tersebut untuk mengakuisisi lahan industrial estate seluas 400 Ha di Cikande, Serang. Areal industrial estate ini berdampingan dengan lahan industri lain yang telah lebih dulu terbentuk. Tahun ini perseroan menargetkan marketing sales sebesar 70 Ha atau senilai Rp350 miliar dari kawasan ini.
Selain dari Cikande, tahun ini perseroan juga akan mengandalkan pendapatan dari unit bisnis lainnya seperti Kota Modern Tangerang (yang masih menjadi pilar bisnis perseroan saat ini) sebesar 97,5 Ha atau Modern Hill Pondok Cabe sebesar 22,4 Ha. Perseroan juga masih memiliki sumber pendapatan lain dari penjualan Low Cost Housing di Cakung dan hotel/commercial sehingga total marketing sales tahun ini ditargetkan dapat mencapai Rp1,48 triliun.
Dari total marketing sales sebesar itu, manajemen MDLN memberi indikasi target sales perseroan di 2012 sebesar Rp1,01 triliun atau naik 105% dari unaudited sales tahun lalu yang sebesar Rp494,34 miliar. Di bottom line, perseroan menargetkan dapat memperoleh net income sebesar Rp190,45 miliar atau naik 118% dari estimasi Rp87,49 miliar di tahun 2011.
Berdasarkan perkiraan perseroan tersebut, estimasi earning per share MDLN di 2012 adalah sebesar Rp30,34. Pada penutupan harga kemarin di Rp345, estimasi PE ratio 2012 MDLN adalah 11,37x. PE tersebut masih lebih rendah dibanding rata-rata PE emiten properti lainnya yang sekitar 15x. Jika ingin setara dengan average industri, harga wajar MDLN adalah Rp455. Karena dulu masih konservatif, CLSA Januari lalu menilai harga pasar MDLN masih diskon 70% dari NAV-nya (sekitar Rp933).











