IMQ, Jakarta —
Sebagai salah produsen batubara di dunia yang mengikuti produsen lainnya seperti China, Amerika Serikat, India, Australia, dan Rusia, tentunya memberikan ruang bagi perusahaan batubara seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dalam memacu produksi dan melakukan terobosan ekspansi.
Saat ini lingkup usaha emiten Bursa Efek Indonesia yang didirikan pada 1987 dan kemudian diakuisisi oleh Group Banpu Thailand pada 2011 ini, antara lain mencakup operasi penambangan batubara, pengolahan dan logistik.
Dalam menjalankan bisnisnya perseroan memiliki lima anak usaha, yaitu PT Indominco Mandiri, PT Trubaindo Coal Mining, PT Jorong Barutama Greston, PT Kitadin dan PT Bharinto Ekatama.
ITMG mengoperasikan enam konsensi tambang yang terletak di Pulau Kalimantan meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan dengan rata-rata kandungan kalori batubara sebesar 6.200-6300 kcal/kg.
Dengan total volume produksi batubara sepanjang 2011 yang diperkirakan sebesar 25 juta ton, meningkat 13,12% dibandingkan dengan volume produksi periode sebelumnya yang sebesar 22,1 juta ton.
Selain itu, perseroan juga memiliki dan mengoperasikan Terminal Batubara Bontang (BoCT), tiga pelabuhan muat dan pembangkit listrik Bontang.
Analis eTrading Securities, Wisnu Karto, dalam risetnya yang dikutip IMQ, mengatakan menilik posisi keuangan perseroan hingga kuartal III-2011, di mana ITMG memiliki posisi keuangan yang kuat dengan kas sebesar US$579 juta serta tidak memiliki posisi utang, merupakan suatu hal yang positif dalam melakukan ekspansi ke depan.
"Tanpa utang yang dimiliki dan posisi arus kas yang kuat memberikan keleluasaan bagi manajemen ITMG untuk melakukan rencana ekspansi dan pembiayaan belanja modal pada tahun ini dan ke depannya," terangnya.
Wisnu menambahkan besarnya posisi kas juga memungkinkan perseroan untuk memberikan Dividen Payout Ratio (DPR) yang tinggi. Pada Oktober 2011 lalu, ITMG membagikan dividen interim dengan rasio DPR sebesar 75% untuk tahun buku semester I‐2011.
"Kami meyakini tren ini masih akan berlanjut pada tahun ini," ulasnya.
Menurutnya, hal ini melihat harga saham perseroan yang diperdagangkan saat ini cukup atraktif dan diperdagangkan PER yang lebih rendah dibandingkan industrinya, yaitu 10,97 kali berbanding 16,77 kali.
Ekspektasi rasio DPR yang tinggi juga dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan saham emiten sektor batubara ini.
Pada penutupan perdagangan Jumat (10/2), saham ITMG berakhir di level Rp41.100 per saham, dengan volume sebanyak 1,09 juta lembar saham senilai Rp44,04 miliar.











