IMQ, Jakarta —
Penurunan begitu besar akibat adanya tekanan jual yang hebat hingga akhir sesi perdagangan Jumat (10/2) membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 2,56% dalam sepekan.
Kepala Riset MNC Securites Edwin Sebayang mengatakan sungguh tragis nasib bursa Indonesia selama sepekan ini atau sekitar 1,5 bulan ini, mana ketika bursa regional menikmati kenaikan seperti Nikkei yang melonjak 115,24 poin (1,3%), Hang Seng naik 26,88 poin (0,13%) dan Strait Times melesat 42,05 poin (1,44%), tetapi bursa Indonesia kebalikannya justru anjlok hingga 102,76 poin (2,56%) dan tragisnya investor asing justru membukukan penjualan bersih dalam jumlah besar, yakni Rp2.283 triliun.
“Lebih tragisnya kejatuhan tajam IHSG terjadi ketika BI Rate turun ke level terendah dalam sejarah Indonesia serta membalikkan logika ekonomi, di mana jika suku bunga acuan turun, harusnya suatu bursa mengalami kenaikan karena diharapkan adanya pergeseran dana dari perbankan masuk ke bursa serta sektor riil akan menjadi bergairah karena suku bunga pinjaman akan menjadi lebih murah,” terangnya di Jakarta, Sabtu (11/2).
Ia menambahkan imbas anjloknya bursa Indonesia juga ini didorong oleh dua faktor yakni faktor eksternal dan domestik.
Untuk faktor eksternal, turunnya data terbaru perdagangan China dibandingkan periode sebelumnya membuat bursa Indonesia juga ikut tergerus.
Tutupnya kegiatan pabrik menyambut Tahun Baru Imlek beberapa waktu lalu dan diperburuk menurunnya permintaan akan barang ekspor China, dan data Kepabeanan, Jumat lalu (10/2) menunjukkan impor turun 15,3% dibandingkan data Januari 2011.
“Ini merupakan level impor terendah sejak Agustus 2009, sementara ekspor China turun sekitar 0,5% dibandingkan periode 2011 dan ini merupakan kinerja terburuk sejak November 2009," tambahnya.
Sementara untuk faktor domestik, beberapa broker asing menempatkan bursa Indonesia dalam kategori mahal alias premium dibandingkan beberapa negara tetangga, sehingga otomatis menurunkan target harga dari beberapa saham berkapitalisasi besar dan beberapa saham perbankan.
“Terlebih khususnya untuk saham perbankan, dampak negatif diturunkannya BI Rate menurunkan yield obligasi negara yang mereka pegang, yang pada gilirannya berpotensi menurunkan kinerja saham perbankan yang mempunyai banyak portofolio Surat Utang Negara (SUN) dan fokus terhadap pemberian kredit kepada korporasi karena margin diperkirakan akan terkikis,” ujarnya.
Untuk pergerakan indeks pada sepekan ke depan, Edwin memperkirakan IHSG berpotensi terus tertekan jika tidak ada counter attact (intervensi) ke market dan merusak ekspektasi secara teknikal karena "destroyer" akan mudah membentuk bagan dan tren menjadi super bearish.
Sementara Senior Research HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan apabila terjadi koreksi berkelanjutan atas tekanan regional maka rekomendasi akumulasi pada berbagai saham berkapitalisasi besar dalam komposisi karena bargain hunting oleh beberapa fund asing maupun dana pensiun lokal, seharusnya muncul kembali apalagi laporan keuangan 2011 juga relatif masih sesuai ekspektasi.











