IMQ, Jakarta —
Langkah Bank Indonesia menurunkan BI Rate cukup tepat jika didasarkan dengan kondisi laju inflasi yang saat ini menurun. Namun langkah ini dinilai belum memperhitungkan rencana pemerintah yang akan menerapkan pembatasan subsidi Bahan Bakar Minyak pada April 2012.
“Jika tolok ukurnya nilai inflasi memang saat ini cenderung turun. Namun perlu diingat adanya pembatasan BBM yang sangat berpotensi akan mendorong inflasi untuk naik,” ujar pengamat ekonomi Aviliani saat dihubungi kamis (9/2).
Otoritas Bank Indonesia baru saja menurunkan level BI Rate dari posisi 6% menjadi 5,75%.
Langkah penurunan ini kembali dilakukan oleh BI setelah terakhir kalinya BI Rate mengalami penurunan pada November 2011 lalu, dimana juga mengalami penurunan sebesar 50 basis poin (bps) dari 6,5 % menjadi 6%.
Namun, penurunan BI Rate ini belum mampu membuat kalangan industri perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunganya.
“Saya rasa masih sulit untuk mengharapkan suku bunga perbankan juga ikut turun, termasuk penurunan BI Rate kali ini yang belum akan banyak berpengaruh terhadap penurunan bunga bank,” jelasnya.
Salah satu alasannya, menurut Aviliani, adalah kondisi pasar saat ini memang cenderung menuntut perbankan agar tetap memberikan suku bunga yang menarik kepada investor yang menyimpan dananya pada bank.
“Saat ini perbankan harus berebut dana dari investor agar mau menyimpan dananya di bank,” jelasnya.











