IMQ, Jakarta —
Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) resmi memiliki 2.500 menara telekomunikasi alias bese transceiver station (BTS) milik Indosat Tbk. Pasca transaksi pembelian, bagaimana prospek TBIG?
Pengamat pasar modal Teguh Hidayat mengatakan dibanding perusahaan penyewaan menara telekomunikasi lainnya, TBIG terbilang sangat agresif dalam menambah portofolio menaranya. Pada awal 2011, TBIG baru memiliki 3.104 menara. Pertumbuhan yang cukup pesat bila dibanding dengan enam tahun silam di mana TBIG hanya memiliki 57 menara dengan tidak lebih dari 58 penyewa.
"Pertumbuhan kepemilikan menara yang sangat cepat tersebut adalah berkat strategi mengakuisisi menara-menara milik perusahaan lain, atau mengakuisisi perusahaan itu sendiri," papar Teguh dalam risetnya 9 Februari 2012.
Dari tahun 2004 hingga 2010, TBIG telah mengakuisisi PT Telenet Internusa, membeli sejumlah menara milik Mobile-8, mengakuisisi PT Bali Telekom, PT Prima Media Selaras, dan PT Solusindo Kreasi Pratama. Terakhir, 9 Agustus 2011 kemarin, TBIG mengakuisisi PT Mitrayasa Sarana Informasi (MSI), senilai Rp200 miliar. MSI sendiri memiliki 263 menara telekomunikasi.
"Pertanyaannya dari mana TBIG punya duit untuk serangkaian akuipsisi tersebut? Dari utang bank," katanya.
Sejak 27 September 2010, TBIG sudah memegang komitmen dari sejumlah bank untuk memperoleh pinjaman senilai maksimal US$2 miliar, atau sekitar Rp18 triliun. Sumber pendanaan lainnya hasil penerbitan saham dengan raupan dana segar Rp1,1 triliun.
Sosok di balik pertumbuhan TBIG yang super-cepat tersebut adalah Sandiaga Salahuddin Uno. Ketika Saratoga Capital milik Edwin Soerjadjaja dan Sandi Uno merintis TBIG pada 2004 dengan 7 menara saja, yang dibeli dari perusahaan lain. Sandi mendirikan TBIG karena tertarik dengan kata-kata dari Sakti Wahyu Trenggono, pemilik Indonesia Tower, salah satu perusahaan penyewaan menara pertama di Indonesia.
"Trenggono mengatakan suatu hari nanti, perusahaan telekomunikasi akan berhenti mendirikan menara telekomunikasi, karena biayanya sangat mahal. Mereka akan memilih menyewa," tirunya.
Dengan valuasi saham TBIG yang tinggi, maka sulit untuk dijadikan pilihan investasi jangka panjang. Bahkan meskipun posisi ekuitas TBIG sekarang sudah mencapai Rp2,6 triliun, namun PBV-nya masih tinggi, yaitu 4,6 kali. TBIG masih perlu waktu untuk menumbuhkan perusahaannya secara pure organic untuk menghasilkan justifikasi kapitalisasi pasar yang bernilai lebih dari US$1 miliar adalah wajar.
"Saat ini salah satu penyebab TBIG bisa bertahan di valuasinya yang tinggi, di mana harga sahamnya senantiasa stabil di atas Rp2.000, adalah karena prospeknya, bukan nilai riil perusahaannya," terangnya.
Langkah akuisisi menara Indosat hanya 'one step ahead' dibanding perusahaan penyewaan menara lainnya, dan TBIG masih akan mengakuisisi lebih banyak lagi. TBIG tidak akan bermasalah dengan pendanaan, karena dari komitmen pinjaman bank senilai US$2 miliar, perusahaan baru mencairkan US$550 juta di antaranya.
"Akuisisi menara milik ISAT juga salah satunya didanai melalui penerbitan saham sebanyak 5%. Maka pemegang saham publik dirugikan karena kepemilikan saham mereka menjadi terdilusi," katanya.
Saham TBIG ini cukup bagus dan prospeknya dalam jangka panjang juga baik, mengingat TBIG akan selalu memperoleh penyewa karena sampai kapanpun, perusahaan telekomunikasi akan selalu membutuhkan menara untuk operasionalnya sehingga risiko usahanya rendah.
"Sementara dengan portofolio kepemilikan menara yang terus bertambah dari waktu ke waktu, maka otomatis pendapatan dan laba TBIG juga akan senantiasa meningkat, sehingga menjanjikan keuntungan besar bagi para shareholder-nya," yakinnya.
Ia menyarankan untuk trading jangka pendek, maka paling mudah mulai melirik TBIG ketika harga di Rp2.000 atau sekitarnya. Saham TBIG kemungkinan akan terus dijaga agar tidak turun lebih rendah dari angka tersebut.
"Seperti juga pada saham ADRO, sepertinya Grup Saratoga memiliki kebijakan untuk tetap mempertahankan harga saham perusahaan mereka di level 2.000-an,".
Bagi ISAT, perolehan dana dari transaksi ini membantu perusahaan untuk membiayai belanja modal dan membayar utang. Khusus untuk membayar utang, ISAT memang sedang berjuang untuk membayar utang-utangnya.











