IMQ, Jakarta —
Raksasa elektronik Jepang, Sony Corp. di tahun naga air ini sepertinya akan menghadapi masa perjuangan yang teramat berat. Itu terjadi setelah lembaga pemeringkat Standard and Poor’s, Rabu (8/2), menurunkan ratingnya.
S&P memangkas peringkat kelayakan utang jangka panjang Sony menjadi BBB+, dari sebelumnya A-. Hal itu didasarkan pada buruknya kinerja keuangan, penurunan harga, turunnya pemintaan dan ketatnya persaingan.
Downgrade ini merupakan pukulan telak terbaru bagi Sony, yang pekan lalu ditinggalkan chief executive-nya dan memperkirakan akan merugi hingga US$2,9 miliar untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret, yang merupakan kerugian dalam empat tahun berturut-turut.
S&P mengatakan prospek untuk peringkat utang jangka panjang Sony adalah negatif, didasarkan pada pandangan bahwa situasi yang parah pada bisnis elektronik machinery, sepertinya akan menyulitkan perusahaan untuk mencatat pemulihan laba yang kuat.
“Bisnis TV Sony kembali merugi sejak tahun fiskal 2004,” kata S&P.
“Posisi Sony di pasar global mendapat tekanan kuat di tengah ketatnya persaingan dengan manufaktur Korea Selatan dan China," kata lembaga pemeringkat itu.
S&P juga memperingatkan bahwa pihaknya dapat kembali memangkas rating Sony jika tidak terlihat adanya tanda-tanda pemulihan dalam enam hingga 12 bulan ke depan.
Pekan lalu, Sony meningkatkan dua kali lipat proyeksi rugi bersihnya menjadi 220 miliar yen (US$2,9 miliar), naik dari 90 miliar yen.
Sony mencatat rugi bersih 201,45 miliar yen selama sembilan bulan hingga Desember, turun dari posisi laba sebesar 129,22 miliar yen pada periode yang sama tahun sebelumnya.











