IMQ, Jakarta —
Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) merupakan perusahaan karet terbesar dengan areal tanaman karet seluas 18.477 hektar. Alhasil, penjualan karet memberikan kontribusi sekitar 26,7% dari total penjualan perseroan.
Sepanjang 2010, produksi karet UNSP secara signifikan meningkat sekitar 62% dibandingkan dengan industri sejenis. Karet sekaligus menjadi kunci penggerak perusahaan setelah minyak kelapa sawit.
"Dengan menjadi perkebunan terbesar yang terdaftar dalam hal luas tanam dan produksi, UNSP tidak kehilangan kesempatan untuk mengukir kinerjanya," demikian riset e-Trading Securities edisi Februari 2012.
Harga jual rata-rata karet dalam sembilan bulan 2011 sekitar US$4.727 per metrik ton atau 61% dari US$2.932 per metrik ton.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian memperkirakan produksi karet nasional pada 2012 sebesar 3,27 juta ton, naik 9% (year-on dari tahun 2011 sebesar tiga juta ton. Angka ini di atas perkiraan Badan Pengawas Perdagangan berjangka Komoditi Indonesia Kementerian Perdagangan yang memprediksi produksi karet Indonesia tahun ini 3,1 juta ton.
Hingga September 2011, penjualan karet UNSP mencapai Rp894 miliar atau meningkat 35% dari 2010. Kenaikan nilai penjualan perusahaan karet didukung membaiknya rata-rata harga jual pada periode tersebut dan volume penjualan yang mencapai 21.435 ton.
Dari total volume penjualan, pangsa pasar ekspor berkisar 60%-70%. Negara tujuan ekspor karet Bakrie Sumatera antara lain Amerika Serikat, China, India, Korea Selatan, dan Inggris. September 2011, perusahaan memiliki lahan tertanam karel seluas 18.477 hektare dengan komposisi 68% tanaman berusia di atas enam tahun.
Saat ini, UNSP mengelola lebih dari 125.000 hektar areal tanam dan mengoperasikan 12 pabrik dengan kapasitas gabungan dengan total 715.00 metrik ton per tahun.
Areal tanam ini menghasilkan produk baik hilir maupun hulu, seperti kelapa sawit, inti sawit, karet, dan bahan kimia oleo. e-Trading percaya permintaan Asia untuk produk oleo akan terus tumbuh sekitar 5-7% per tahun. Industri oleokimia memberikan nilai tambah 40% diperkirakan akan mendorong nilai CPO dan PKO.
"Marjin manufaktur sekitar 15%, oleokimia juga dapat menikkan pendapatan dengan menghemat insentif pajak," paparnya.
CPO dan PKO ikut kebijakan pajak progresif dengan patokan harga di atas US$1.250 dikenakan pajak 22,5%, sedangkan produk kilang di patok di atas US$1.250 atau 10,15% dan tidak dikenakan pajak untuk produk alkohol lemak.
Dengan pajak ekspor yang ada saat ini untuk produk kelapa sawit di Indonesia yang lebih kondusif terhadap pemain hilir. e-Trading meyakini UNSP memiliki integritas bisnis kelapa sawit.
"UNSP memiliki kesempatan untuk menangkap sinergi stretegis dari produksi hulu ke manufaktur bernilai tambah pada dervatif hilirnya," ungkapnya.
Tingkat pertumbuhan UNSP selama lima tahun terakhir 20,5% atau satu tahun pertumbuhan pendapatan menurut Bloomberg sekitar 29,21% mengalahkan rata-rata industri 16,01% dengan marjin yang sinifikan 13,20%.
"Mengingat PBV sekitar 0,44 kali dibandingkan dengan rasio rata-rata industri 2,28 kali, maka kita percaya UNSP menarik," katanya.











