IMQ, Jakarta —
Selama ini mayoritas masyarakat China adalah peminum teh, seperti layaknya rakyat Jepang. Tapi dengan kedatangan Starbucks, bukan tak mungkin lambat laun budaya minum teh itu akan beralih menjadi peminum kopi.
Apalagi perusahaan asal Amerika Serikat ini tak hanya terus menambah gerainya di sejumlah kota besar China, tapi juga mulai membentuk usaha patungan dengan perusahaan lokal untuk membeli dan mengolah biji kopi di provinsi Yunnan, yang terletak di wilayah baratdaya China.
Starbucks dan Ai Ni Group nantinya akan membeli dan mengekspor kopi untuk membantu pasokan kopi ke sejumlah gerai Starbucks di seluruh dunia, tulis kantor berita China Xinhua, Senin (6/2), mengutip Presiden Starbucks China Wang Jinlong.
Namun, sejauh ini belum ada penjelasan resmi dari kedua perusahaan itu terkait dengan aspek finansial dari pembentukan usaha patungan itu.
Starbucks saat ini memiliki lebih dari 500 gerai di seluruh China daratan dan berniat untuk membuka 1.000 gerai lagi dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan semakin meningkatnya minat masyarakat setempat untuk menikmati kopi. Hal itu lebih didorong oleh meningkatnya perekonomian masyarakat dan dipadu dengan gaya hidup perkotaan.
Starbucks sebelumnya memperkirakan bahwa China memiliki potensi pasar peminum kopi sebanyak 200-250 juta orang.
Pada akhir 2010, Starbucks mengumumkan mereka tengah mengembangkan perkebunan kopi sendiri Yunnan untuk mengamankan pasokan biji kopi berkualitas di China, yang merupakan pasar terpenting kedua bagi Starbucks.
Dari perkebunan kopi di Yunnan itu, Starbucks berharap dapat melakukan panen pertama kopi Arabika pada 2014.











