IMQ, Jakarta —
Semarak bursa saham global ternyata tidak mampu menahan hasrat investor untuk menjual saham perbankan. Diikuti oleh koreksi saham big-caps lainnya, IHSG pun harus turun signifikan 41 poin.
Tidak ada argumen baru atas koreksi saham perbankan, kecuali BBNI yang kabarnya masuk periode exercise saham ESOP lebih dari 1 juta lot. Saham bank yang selama ini cukup imun terhadap krisis global, akhirnya terpuruk oleh sentimen domestik.
Tidak begitu jelas sejauh mana koreksi saham bank akan mempengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan. Namun jika bursa saham global tidak ikut terkoreksi, perdagangan saham di bursa Jakarta masih dapat berlangsung mixed. Sektor perkebunan misalnya, sentimen sektor ini dapat terangkat oleh rencana Dahlan Iskan membentuk perusahaan holding perkebunan sawit dan karet terbesar di dunia yang memiliki total aset $5,6 miliar. Wacana lama ini tampaknya akan terealisasi pada Maret nanti dengan PT Perkebunan Nusantara III sebagai holdingnya.
Sektor lain yang masih sanggup menguat adalah sektor konstruksi, jalan tol, batubara atau saham seperti TINS, INTA atau JPFA.
Di Eropa, potensi negatifnya berasal dari kegagalan Yunani mencapai kata sepakat untuk menerima term & condition yang menyakitkan.
Pemimpin politik Yunani mengabaikan deadline yang diberikan Uni Eropa pada Senin kemarin dan menundanya hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Untuk mendapatkan bailout tahap kedua senilai €130 miliar euro, Yunani masih diberi waktu hingga 15 Februari, itu pun jika parlemen Jerman dan Finlandia setuju pencairan bailout. Jika tidak, Yunani akan menghadapi utang jatuh tempo sebesar €14,5 miliar pada Maret mendatang.











