IMQ, Jakarta —
Suasana sendu melanda Wall Street pada perdagangan Senin (6/2) setelah pembicaraan antara pemerintah Yunani dengan kreditur swasta dan internasional mengalami jalan buntu.
Akibatnya, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 17,10 poin, atau 0,1%, menjadi 12.845,13. Padahal akhir pekan lalu harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2008.
Untuk indeks S&P 500 turun tipis 0,6 poin, atau 0,04%, menjadi 1.344,33; dan pada akhir pekan lalu indeks ini mencatat level tertinggi di awal tahun sejak 1987. Sedangkan indeks Nasdaq Composite melemah 3,67 poin, atau 0,1%, menjadi 2.901,99, melorot dari level penutupan tertingginya sejak Desember 2000.
Sebelumnya, minyak mentah berjangka mengakhiri perdagangan Senin (6/2) di zona negatif setelah pasar mencemaskan situasi tak menentu di Yunani dan melemahnya kinerja bursa Wall Street juga memicu kekhawatiran lesunya permintaan minyak Nymex dan mengalihkan perhatian investor ke minyak Brent di Eropa.
Harga minyak mentah untuk pengiriman Maret ditutup melemah 93 sen, atau 1%, menjadi US$96,91 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak Brent ditutup menguat 1,2% menjadi US$115,92 per barel di ICE Futures, London.
Kekhawatiran yang makin memuncak terhadap krisis utang Yunani menyusul belum adanya kesepakatan dengan para kreditur swasta terkait restrukturisasi utang telah memicu melemahnya euro dan mendongkrak dolar AS. Padahal, penguatan dolar ini akan menekan harga komoditas yang berdenominasi dolar AS.
Kondisi yang sama dialami emas berjangka yang ditutup melemah Senin (6/2) di tengah menguatnya dolar AS yang memberikan tekanan terhadap logam mulia ini dan juga pengaruh pelemahan harga saham-saham di bursa New York.
Harga emas untuk pengiriman April melorot US$15,40, atau 0,9%, menjadi US$1.724,90 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Sebelumnya, harga emas ini sempat jatuh hingga US$26,30 ke level US$1.714 per ons.
Melemahnya harga emas ini lebih karena menguatnya dolar AS, melemahnya harga minyak dan penurunan harga saham menyusul meningkatnya kekhawatiran atas krisis utang Yunani, kata Mark O’Byrne, executive director di GoldCore.
Memburuknya situasi pembicaraan antara Yunani dengan krediturnya untuk restrukturisasi utang ternyata gagal memacu aksi beli emas.
Aksi beli emas untuk safe-haven sudah terjadi pada perdagangan Jumat (3/2), ketika membaiknya data ekonomi AS memicu penurunan harga emas sebesar US$19 per ons. Dan menguatnya dolar semakin memberikan tekanan pada harga emas.
Sementara indeks dolar diperdagangkan di posisi 79,074, dari sebelumnya 78,969. Menguatnya dolar adalah hal negatif bagi emas dan komoditas berdenominasi dolar lainnya karena akan membuat harga lebih tinggi bagi pemegang mata uang selain dolar.
Untuk harga perak pengiriman Maret ditutup flat di level US$33,75 per ons, sedangkan tembaga untuk pengiriman Maret turun 4 sen menjadi US$3,86 per pons.
Platinum untuk kontrak April turun US$2,10, atau 0,1%, menjadi US$1.629,80 per ons, dan palladium melorot US$2,90, atau 0,4%, menjadi US$705,95 per ons.











