IMQ, Jakarta —
Kesuksesan PT Buana Listya Tama Tbk dalam menggaet klien-klien baru yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan perusahaan secara signifikan. Hal ini berkat terbitnya peraturan pemerintah yang mewajibkan para perusahaan pengguna jasa logistik untuk menggunakan kapal berbendera Indonesia.
Alhasil, BULL diuntungkan dibanding para pesaingnya yang kebanyakan merupakan perusahaan kapal asing, seperti Qatar Gas Transport Ltd, Teekay Corp, Great Eastern Shipping, dan Frontline Ltd.
Sementara di antara perusahaan kapal lokal, BULL adalah salah satu perusahaan yang terbesar dari sisi kapasitas angkut, di mana BULL memiliki 21 kapal dengan total kapasitas angkut 634 ribu ton.
Angka tersebut lebih besar dari kapasitas angkut milik Arpeni Pratama Ocean Line, Samudera Indonesia, dan Humpuss Intermoda.
Menurut pengamat pasar modal Teguh Hidayat, dalam operasionalnya, BULL tidak bersaing dengan anak-anak usaha BLTA yang lainnya, sebab manajemen memfokuskan BULL pada bisnis logistik energi (minyak dan gas), dan kapal-kapal milik BULL juga hanya beroperasi di dalam negeri.
Sementara anak-anak usaha BLTA yang lain difokuskan pada pengangkutan bahan kimia, dan seluruh kapal mereka beroperasi di luar Indonesia.
"Dilihat dari sini, maka semakin kecil kemungkinan anak usaha BLTA yang telah melanggar perjanjian utang ataupun mengalami gagal bayar sewa, adalah BULL," kata Teguh dalam risetnya Februari 2012.
Sebab menurut manajemen, latar belakang dari kejadian tersebut adalah karena terjadinya krisis di luar negeri sana, termasuk krisis utang Eropa, dan bukan karena adanya masalah dari dalam negeri. Sementara BULL hanya beroperasi di Indonesia, dan sejauh ini di sini tidak terjadi masalah apapun.
Saat ini, sambungnya, selain mengerjakan proyek-proyek yang sudah dipegang, kegiatan BULL yang lainnya adalah mengikuti berbagai tender penyediaan jasa logistik laut, seperti tender pengadaan very large gas carrier (VLGC), tender penyediaan terminal batubara terapung, tender penyediaan kapal floating, production, storage, and offloading (FPSO), hingga tender penyediaan kapal tanker gas.
Mengingat BULL diuntungkan oleh Peraturan Pemerintah di mana kapal pengangkutan yang beroperasi di Indonesia harus berbendera Indonesia, dan BULL pemilik armada kapal terbesar di antara perusahaan kapal lokal, ditambah usia armada kapal masih relatif muda (rata-rata kurang dari 20 tahun, sementara kapal-kapal milik perusahaan lain berusia di atas 25 tahun).
"Maka peluang BULL untuk memenangkan tender-tender tersebut cukup terbuka, dan itu berarti prospeknya cukup bagus. Setelah kinerjanya yang cukup bagus sepanjang tahun 2011 kemarin, BULL berpeluang untuk kembali mencetak kenaikan pendapatan dan laba bersih yang signifikan di tahun 2012 ini," terangnya.
Sementara dari sisi risiko, lanjutnya, BULL membutuhkan modal yang besar jika mereka memenangkan tender-tender tadi, sehingga manajemen sendiri berencana untuk menerbitkan obligasi konversi senilai US$50 juta.
"BULL memang bisa saja menggunakan modal hasil dari mengumpulkan perolehan laba bersih, tapi itu akan memerlukan waktu, sehingga ujung-ujungnya leverage lagi," ungkapnya.
Meskipun langkah ambisius tersebut mungkin tidak jadi masalah karena utang BULL memang nggak sebanyak utang induknya, namun tetap saja itu akan berisiko. Memang benar bahwa saat ini krisis hanya terjadi di Eropa sana, sementara di Indonesia sepertinya masih baik-baik saja.
Namun, siapa yang bisa menjamin lesunya bisnis perkapalan di luar negeri sana tidak akan merembet ke Indonesia? Sementara, BLTA sendiri bisa menjadi bermasalah seperti sekarang ini, adalah karena tindakan perusahaan yang mengambil banyak sekali utang pada akhir 2007 lalu, atau persis hanya beberapa waktu sebelum terjadinya krisis global 2008 yang meruntuhkan semuanya.
Risiko lainnya, dari 21 armada kapal milik BULL, 6 di antaranya merupakan kapal sewaan, alias bukan dimiliki sendiri. Okay, BULL selama ini mungkin tidak pernah bermasalah dalam membayar biaya sewa keenam kapal tersebut.
"Namun, mengingat anak usaha BLTA yang lain pernah gagal membayar sewa kapal seperti yang terjadi kemarin, maka tentunya bukan tidak mungkin BULL juga akan mengalami masalah serupa," paparnya.
BULL merupakan saham yang bagus, harganya lagi murah, begitu juga dengan prospektusnya. Sementara risikonya lebih karena manajemen sedikit terlalu ambisius, di mana mereka senang sekali melakukan leverage tanpa mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
"Satu lagi, meskipun di atas penulis mengatakan bahwa kecil kemungkinannya BULL merupakan anak usaha BLTA yang bermasalah dengan utang dan biaya sewanya, tapi kemungkinan yang kecil itu kan bukan berarti tidak mungkin sama sekali," urainya.











