IMQ, Jakarta —
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas estimasi untuk pertumbuhan ekonomi China tahun ini menjadi 8,25% dari 9,0% yang diproyeksikan pada September lalu. Penurunan proyeksi itu didasarkan pada ancaman melemahnya ekspor di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu.
Dalam laporan bertajuk China Economic Outlook yang dirilis Senin (6/2), IMF mengatakan laju pertumbuhan ekonomi China, yang sebesar 9,2% tahun lalu, akan turun jika zona euro mengalami resesi.
Penilaian IMF itu muncul di tengah kecemasan investor terhadap melemahnya data ekonomi China, yang diperkirakan akan terus menunjukkan inflasi yang menurun tapi tertekan oleh lesunya kinerja ekspor.
Meski laju pertumbuhannnya diproyeksikan melemah, namun China memiliki kesempatan untuk menerapkan kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan, seperti memberikan stimulus bagi perekeonomian domestik.
IMF memperkirakan perekonomian terbesar kedua dunia ini akan mengalami percepatan pertumbuhan tahun depan dan tumbuh sebesar 8,75%.
Namun, IMF memperingatkan bahwa tidak seperti stimulus anti-krisis sebesar 4 triliun yuan yang diluncurkan pada 2008 lalu yang mengkhawatirkan pengucuran pinjaman, Beijing harus meluncurkan stimulus baru melalui anggarannya ketimbang sistem perbankan.











