IMQ, Jakarta —
Momentum penguatan ekonomi Amerika bertahan setelah angka pengangguran turun menjadi 8,3% pada Januari dari 8,5% sebelumnya. Penurunan tersebut diperoleh dari penyerapan tenaga kerja sebesar 243.000 orang yang sepenuhnya di sektor swasta (257.000).
Adapun di pemerintahan terjadi pengurangan sebanyak 14.000 orang. Angka tersebut jauh di atas estimasi ekonom yang paling optimistis sekalipun menurut survey Bloomberg, yaitu 225.000.
Indeks Dow Jones pun untuk pertama kalinya ditutup dilevel yang lebih tinggi sebelum krisis utang Eropa mencuat Agustus tahun lalu. Dow dengan demikian mengabaikan kekhawatiran sebagian investor yang telah melihat keadaan overbought pasca rally awal tahun terbaik sejak 1987. Selain oleh data payroll, rally Dow juga ditopang oleh data ISM non-manufacturing index, yang mencerminkan hampir 90% aktivitas ekonomi Amerika, naik ke level 56,8 atau di atas estimasi yang sebesar 53,2.
Laba korporat Amerika diprediksi naik 9% tahun ini dengan estimasi PE ratio 12,7x untuk indeks S&P 500. Angka tersebut masih di bawah rata-rata PE 16,4x sejak 1954, demikian data Bloomberg.
Ketika pasar tenaga kerja Amerika menunjukkan perbaikan, angka pengangguran zona euro naik ke level 10,4%, level tertingginya sejak euro terbentuk pada 1999. Keadaan di Eropa mungkin akan memburuk sebelum akhirnya membaik dan mereka dapat melaluinya tanpa gejolak baru. Senin ini adalah deadline Uni Eropa kepada Yunani untuk menerima persyaratan bailout tahap kedua.
Di bursa Jakarta, banyak saham di banyak sektor kembali memiliki alasan untuk naik. Euphorianya akan kurang lebih sama seperti akhir pekan lalu. Tekanan atas saham perbankan juga harusnya akan berkurang. Sedangkan sejumlah saham dapat memperbaiki level tertinggi barunya seperti BSDE, CMNP, UNTR atau HEXA. Rekomendasi baru club ada pada saham INTA untuk tujuan mid-term.
Saham batubara dan perkebunan akan melanjutkan penguatannya dengan catatan khusus pada BORN setelah Samin Tan dikabarkan masuk dalam manajemen Bumi Plc. Kekecewaan investor atas INDY mungkin berlanjut setelah divestasi saham PTRO-nya hanya berhasil dijual pada harga rendah, yaitu Rp36.000 per saham, jauh di bawah rentang terbawah estimasi Credit Suisse yang berada di Rp44500-Rp51500 per saham.











