IMQ, Jakarta —
Berbeda dengan harga emas yang turun untuk kali pertama dalam empat sesi terakhir, harga minyak mentah menutup perdagangan Jumat (3/2) di area positif, sekaligus mengakhiri pelemahan dalam lima sesi terakhir.
Penguatan harga minyak mentah pada perdagangan akhir pekan ini ditunjang oleh meningkatnya jumlah tenaga kerja AS, sehingga mengangkat prospek permintaan minyak. Namun dalam sepekan ini harga minyak turun 1,7%.
Harga minyak mentah untuk pengiriman Maret menguat US$1,48, atau 1,5%, menjadi US$97,84 per barel di New York Mercantile Exchange.
Dalam lima sesi terakhir, harga minyak telah anjlok sebesar 3,3%.
"Para pelaku pasar over-reactive hari ini terhadap sinyal-sinyal dari apa yang pada akhirnya mengarah pada cerahnya prospek permintaan," kata Seth Rabinowitz, analis komoditas di Silicon Associates.
Sementara itu, untuk pertama kalinya dalam empat sesi terakhir emas berjangka ditutup melemah pada perdagangan Jumat (3/2).
Emas berjangka mengakhiri perdagangan dengan pelemahan sebesar US$19 per ons menyusul positifnya data ekonomi AS yang menggiring investor menjauhi pasar logam mulia dan beralih ke saham.
Emas untuk pengiriman April ditutup di level US$1.740,30 per ons, atau turun 1,1% di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Selama sepekan ini, emas berjangka naik 0,5%.
"Secara fundamental, pasar terpukul oleh positifnya data tenaga kerja Januari dan angka pengangguran," kata Darin Newsom, analis senior di Telvent DTN.
"Secara teknikal, kontrak April sudah mengalami jenuh jual yang tajam berdasarkan stochastic harian," imbuhnya.
Harga emas menguat hampir US$25 per ons dalam tiga sesi perdagangan terakhir.











