IMQ, Jakarta —
Penurunan biaya ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dari Indonesia diperkirakan akan segera memicu perlawanan dari Malaysia.
Demikian diungkapkan Research dan Analysis Division PT Monex Investindo Futures Ariana Nur Akbar di Jakarta, Jumat (3/2).
Menurut Ariana, setelah beberapa hari yang lalu Indonesia menurunkan tarif ekspor, sehingga membuat ekspor Malaysia langsung mengalami penurunan.
“Rilis yang diungkapkan Societe Generale, ekspor dari negeri jiran tersebut mengalami kemerosotan sebesar 19,9% akibat peralihan permintaan untuk ekspor dari Malaysia ke Indonesia,” terangnya.
Sebagaimana dilaporkan The Star, melihat hal ini Malaysia kemudian melakukan reformasi kebijakan ekspor minyak sawitnya dan meluncurkan dana bantuan senilai RM1 miliar atau setara US$331,29 juta untuk mengangkat harga minyak sawit melalui kebijakan ekspor.
Ariana menambahkan sentimen negatif dari menguatnya ringgit Malaysia juga memberikan dampak pada turunnya permintaan, sehingga akan berpotensi memperburuk kecenderungan harga untuk melemah pekan depan.
“Yang harus diwaspadai pekan depan adalah faktor restrukturisasi utang Yunani dengan para kreditur swastanya yang berpotensi melemahkan harga secara umum permintaan dari Eropa dan ekspektasi keputusan tingkat suku bunga dari bank sentral Eropa
serta inflasi dari negara-negara maju,” jelasnya.
Sementara mengenai potensi harga CPO, lanjut Arina, kisaran support akan berada pada Ringgit Malaysia (RM) RM2.970 dan RM2.916. Sedangkan untuk pergerakan naiknya, kisaran resistance berada pada Ringgit Malaysia (RM)3.073-RM3.105-RM3.137.











