IMQ, Jakarta —
Setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 11 pekan, yang terjadi pada perdagangan Kamis (2/2) di New York, emas berjangka mulai kehabisan tenaga dalam perdagangan elektronik di Asia, Jumat (3/2).
Pemicu penurunan harga emas di pasar Asia ini adalah menguatnya dolar AS menjelang dirilisnya data tenaga kerja AS pada Jumat waktu setempat.
Emas untuk pengiriman April melemah 40 sen menjadi US$1.785,90 per ons dalam perdagangan elektronik di Asia.
Logam mulia ini sebelumnya ditutup menguat US$9,80 menjadi US$1.759,30 per ons dalam perdagangan reguler di New York, yang merupakan level penutupan tertinggi sejak medio November.
Kenaikan harga logam mulia itu berkat melemahnya dolar AS menjelang laporan tenaga kerja AS, yang menurunkan minat investor terhadap mata uang AS ini sebagai safe-haven.
Namun, dolar berlaik arah menuju area positif pada Jumat ini setelah pasar memfaktorkan laporan data tenaga kerja AS. Indeks dolar berada di posisi 79,051 pada perdagangan Jumat, dari sebelumnya di level 79,010 di pasar Amerika Utara semalam.
“Data tenaga kerja AS bikin pasar cemas,” kata analis dari RBC Capital Markets.
Ekonom yang disurvei MarketWatch memperkirakan perekonomian AS sepertinya akan menambah 121.000 lapangan kerja pada
Januari dan tingkat pengangguran akan tetap bertahan di level 8,5%.
Sementara itu, harga perak untuk pengiriman Maret bergerak flat di US$34,17 per ons, sedangkan platinum untuk pengiriman April melorot 30 sen menjadi US$1.629,60 per ons. Untuk tembaga pengiriman Maret naik 2 sen menjadi US$3,80 per pons.











