IMQ, Jakarta —
Perubahan dalam kepemilikan saham mayoritas PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) berimplikasi pada perubahan nama menjadi PT Vale Indonesia Tbk (Vale Indonesia).
Adanya perubahan kepemilikan serta perubahan nama ini tentunya membuka babak baru bagi Vale Indonesia untuk mencapai peningkatan kinerja ke depan.
Vale adalah perusahaan pertambangan kedua terbesar dan salah satu perusahaan publik terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai US$120 miliar, sedangkan INCO adalah produsen nikel terbesar di Indonesia yang beroperasi secara komersial sejak 1978.
Pada 2012, Vale Indonesia akan menginjak usia 44 tahun, yang tentunya menggambarkan prestasi dan kematangan dalam menghadapi gejolak pasar nikel dunia serta dinamika ekonomi dan politik Indonesia.
Dalam pengembangan, perseroan pada awalnya memiliki luas area konsesi sebesar 218,528 hektar, antara lain 118,387 hektar di Sorowako, Sulawesi Selatan, 63,506 hektar di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan 36,635 hektar di Bahodopi, Sulawesi Tengah.
Namun demikian, pemerintah menyetujui pelepasan area Kontrak Kerja (KK) dari total sekitar 28 ribu hektar atau sekitar 12,8% dari luas total KK pada 2010. Setelah pelepasan lahan tersebut total luas area KK perseroan ini meliputi 190 ribu hektar.
Sementara dalam tahapan operasional perseroan mencakup kegiatan penambangan dan pengolahan bijih nikel menjadi nikel dalam matte tingkat menengah, yang mengandung rata-rata 78% nikel dan 20 persen sulfur/belerang.
Seluruh produksi ini dijual dalam bentuk dolar Amerika Serikat berdasarkan kontrak-kontrak jangka panjang untuk dimurnikan di Jepang.
Analis eTrading Securities Muhammad Wafi mengatakan tuntasnya pembangunan proyek PLTA Karebbe yang memiliki kapasitas rata-rata 90 Megawatt (MW) pada akhir 2011 lalu, tentunya memberikan kesempatan bagi perseroan untuk mengurangi biaya produksi.
"Dengan pembangkit listrik baru ini perseroan akan memiliki total 370 MW rata daya dari Karebbe, Balambano dan Larona, sehingga adanya PLTA ini kami mengharapkan harga pokok penjualan (HPP) INCO akan turun 8%," ujarnya.
Ke depan, lanjutnya, diprediksi harga nikel akan bergerak mendatar, yang didorong perkiraan pertumbuhan ekonomi China 2012 akan lebih lambat dari tahun sebelumnya.
"Meskipun pertumbuhan China bisa menjadi lebih lambat, tetapi akan mempengaruhi harga nikel dunia dalam jumlah standar deviasi 10%," ujarnya.
Ia menambahkan mengenai pembayaran dividen berkelanjutan, perseroan diperkirakan akan mempertahankan kebijakan dividen dengan memberikan 60% dari laba kepada stakeholder.
Meski demikian kebijakan ini tidak memberikan risiko bagi perseroan sehubungan rencana untuk mengambil fasilitas pinjaman lain karena aliran kas yang kuat dan rasio utang rendah.
“Kami merekomendasikan beli (buy) untuk saham INCO dengan target harga (TP) Rp4.649 per saham yang mencerminkan 10.82x dan 9.47x PE12e dan PE13e,” jelasnya.
Pada penutupan perdagangan Kamis (2/2), saham INCO ditutup pada level Rp3.950 per saham, dengan volume sebanyak 5,45 juta lembar saham senilai Rp21,89 miliar.











