IMQ, Jakarta —
Pengamat ekonom Chatib Basri mendukung langkah pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, harga BBM bersubsidi Rp1.000 per liter dapat menghemat anggaran negara sebesar Rp21 triliun.
"Artinya apa, mau BBM itu naik atau tidak orang pasti akan membelinya," ujar Chatib dalam seminar Ekonomi UOB di Jakarta, Kamis malam (2/2).
Menurutnya, masyarakat dapat membeli BBM dari agen resmi hingga pengecer. Bahkan, diperkirakan beberapa orang akan berganti profesi untuk sementara menjadi pengecer minyak lantaran harga yang meningkat dan menjanjikan keuntungan dalam waktu singkat.
"Saya kira tukang ojek juga nanti dapat menjadi pengecer minyak, apalagi kebutuhan di desa-desa cukup besar," paparnya.
Namun, sambungnya, bila pemerintah tidak bisa menekan kuota volume BBM bersubsidi yang ditetapkan sebanyak 40 juta kiloliter, maka anggaran yang dapat dihemat sekitar Rp8 triliun.
Ia melihat Indonesia sebagai negara berkembang (emerging market) diuntungkan dengan aspek geografis dan demografisnya. Salah satunya ditunjukkan oleh kebutuhan akan semen di pulau di luar Jawa yang semakin meningkat.
"Hal ini berarti banyak orang kaya di luar Jawa yang membutuhkan semen. Artinya, mereka siap punya dana dan membangun," ujarnya.
Selain itu, ekspor bahan baku dan bahan modal meningkat sekaligus menandai banyaknya perusahaan yang akan berinvestasi. Oleh karenanya, investor memerlukan dana untuk menggunakan ekspor tersebut.











