IMQ, Jakarta —
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan pertumbuhan surplus setelah pajak sekitar 479,5% menjadi Rp5,418 triliun sepanjang 2011, bila dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya yang hanya Rp935,095 miliar.
Menurut Kepala Eksekutif LPS Firdaus Jaelani, pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan operasi sekitar Rp6,395 triliun, meningkat 20,47% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,308 triliun.
"Surpus ini juga disumbang oleh kenaikan pendapatan lain-lain sekitar 280% dari Rp12,43 miliar menjadi Rp48,117 miliar," kata Firdaus dalam paparan kinerja LPS 2011 di kantor pusat LPS, Jakarta, Kamis (2/2).
Adapun alokasi dari surplus ini ditempatkan sebagai cadangan tujuan sekitar 20% atau Rp1,083 triliun dan cadangan penjaminan sekitar 80% atau setara Rp4,335 triliun.
Sepanjang 2011, total aset LPS mencapai Rp27,566 triliun, meningkat 22,25% dari periode sebelumnya Rp22,548 triliun. Pendapatan premi LPS sebagaian besar diinvestasikan dalam portofolio, yang terdiri dari Serifikat Bank Indonesia dan Surat Berharga Negara (SBN).
Simpanan bank umum hingga 2011 yang dijamin oleh LPS sebanyak 101,366 juta (untuk rekening yang nilai simpanannya kurang lebih Rp2 miliar) atau 99,87% setara Rp1.667 triliun (termasuk rekening yang nilainya di atas Rp2 triliun).
Sedangkan total simpanan BPR per 30 Juni 2011 mencapai Rp36,81 triliun. Jumlah BPR hingga 31 Desember 2011 sebanyak 1.957 bank, sedangkan bank umum sebanyak 120 atau turun 2 poin bila dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya sebanyak 122 bank.











