IMQ, Jakarta —
Aktivitas masyarakat yang terus meningkat membuat kebutuhan transportasi, khususnya udara, semakin diperlukan. Hal ini memberikan peluang bagi PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dalam mengembangkan ekspansi usahanya.
Sebagai bagian dari program kerja yang tertuang dalam program Quantum Leap 2010-2015, perseroan saat ini fokus pada pengembangan Citilink pada pasar penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier/LCC) baik untuk domestik maupun regional.
Sehubungan dengan program itu, perusahaan penerbangan milik negara ini telah menyelesaikan surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) bagi unit usahanya tersebut.
Hingga Januari 2012, Citilink telah mengoperasikan 10 unit pesawat Boeing 737-300 dan Airbus A320 dengan melayani 8 kota tujuan di Indonesia antara lain Jakarta, Surabaya, Denpasar, Batam, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar dan Medan.
Perseroan juga menargetkan hingga akhir 2012, Citilink akan mengoperasikan sebanyak 20 armada yang terdiri dari satu Boeing 737-400 dan enam Boeing 737-300 dan 13 Airbus A320 serta membuka beberapa destinasi baru, seperti Yogyakarta, Padang, dan Pekanbaru.
Selain itu, Citilink juga akan menerima sebanyak 25 pesawat baru Airbus 320s mulai tahun 2014 hingga 2018 sebagai tindak lanjut dari kontrak pembelian 25 pesawat baru Airbus A320 antara Garuda dengan Airbus.
Melalui kontrak pembelian tersebut juga disepakati opsi penambahan A320 sebanyak 25 pesawat.
Head of Research eTrading Securities, Betrand Raynaldi dalam risetnya mengatakan pertumbuhan penumpang LCC (Low Cost Carrier) di Indonesia lebih cepat daripada FSC (Full Services Carrier), meski margin keuntungan lebih rendah namun tingkat keterisian penumpang (occupancy) lebih tinggi.
"Apabila Garuda menjadi pemain lokal satu-satunya pada FSC maka di LCC, perseroan harus bersaing dengan maskapai yang lebih lama berada di segmen ini, seperti Lion Air, AirAsia dan lain-lain," ujarnya.
Meski demikian, lanjutnya, pihaknya berkeyakinan dengan nama besarnya, Garuda akan mampu bersaing, hanya tidak terelakkan akan terjadi kanibalisasi, dalam arti sebagian penumpang FSC Garuda akan beralih ke LCC, meski dampaknya tidaklah terlalu besar.
Berdasarkan konsensus analis merekomendasikan beli untuk saham berkode emiten GIAA ini dengan target harga (TP) rata-rata Rp680 per lembar saham.
Pada penutupan perdagangan Rabu (1/2), saham GIAA berada pada level Rp550 dengan volume sebanyak 86,61 juta lembar saham senilai Rp49,99 miliar.











